Monday, December 27, 2021

Diserobot Antrean?

December 27, 2021 0 Comments
www.pixabay.com


Bismillahirrahmanirrahiim

Pernah gak sih ngerasain gimana rasanya saat kamu udah susah payah mendisiplinkan diri buat tetep antre eh tiba-tiba orang yang paling akhir yang baru aja datang dengan mudahnya maju duluan, serobot antrean tanpa ngerasa bersalah? Jengkel gak sih? Ih pengen marah, pengen sumpah serapah but please Ihat, calm down. Take a breath. Jangan sampai isi tulisan kamu saat ini isinya malah makian kamu sama orang yang udah serobot antrean kamu. Huhuuuu.

I wanna talk to you about my today! Today is my bad day. :’(

Karena gigi berlubang aku gak ada perubahan membaik setelah di tambal sementara, dokter gigi yang di Puskesmas akhirnya memberikan rujukan untuk pengobatan gigi aku selanjutnya ke rumah sakit. Ok. I thought this was the same hospital as usually I visited a few days ago. But in the fact, aku dirujuk ke rumah sakit lain. Aku bertanya lagi ke dokternya and she said yes, I should go there. Ok. No problem. And I went to the hospital at 1 p.m.

I ordered ojol and when I arrived there I decided to use the emergency stairs karena liftnya penuh dan lama. Dan ternyata poli giginya ada di lantai 5 huhuuu. Capek? Iya tentu. Cuma yang aku fikirkan adalah it’s ok. Jalan kaki, naik tangga sekalian olahraga buang keringat. Enough. Dan pas aku sampai di lantai 5 karena ini pertama kalinya buat aku berobat ke rumah sakit ini mau gak mau aku tanya-tanya dulu dong ke petugasnya. Kata petugasnya aku harus nunggu jam 2 buat bisa ambil nomor antreannya. Aku mengiyakan cuma aku penasaran dan mengunjungi mesin nomor antrean, sambil mijit-mijit layarnya yang touchscreen tapi tetep aja belum bisa keluar karena emang belum waktunya. Masih tersisa 45 menit dan aku memilih untuk berjalan menuju jendela besar sambil melihat pemandangan dari lantai 5. Masya Allah! It’s amazing! Langit yang mulai mendung dan jalanan yang masih ramai dilalui kendaraan.

30 menit lagi dan aku balik lagi ke mesin pengambilan nomor antrean. Dipijit berkali-kali tetep aja belum bisa keluar nomor antreannya kemudian aku memilih untuk duduk di kursi tunggu sambil bertanya kepada pengunjung lain dan cowok bertopi yang duduk di depan aku langsung menjawab pertanyaanku.

“Kalau ke gigi nanti jam 2. Nanti kalau tombol giginya udah kuning baru bisa ambil nomor antrean.” Ucapnya dan aku hanya manggut-manggut.

10 menit lagi menuju jam 2, cowok bertopi itu udah siap siaga nunggu di depan mesin pengambil nomor antrean sedangkan aku masih santai duduk di kursi. 8 menit yang tersisa dia mengangguk kepadaku, isyarat agar aku ikut mengantre di belakangnya. Kemudian aku pun ikut mengantre di belakangnya yang kini sudah dahulu terhalang oleh satu orang. Saat jam 2 teng petugas sudah mulai memanggil nomor antrean 1 dan cowok bertopi itu langsung mengambil nomor antreannya disusul orang yang dihadapanku dan tanpa aba-aba ternyata orang lain sudah ikut mengerubungi mesin pengambil nomor antrean di pinggirnya. Aku yang masih melongo melihat orang rebutan ambil nomor ternyata malah ke serobot sama Ibu-ibu yang  bilang dia butuh dua nomor. Begitu ditekan lagi tombolnya si nomor sudah tidak keluar lagi dan si Ibu udah megang nomor antrean 10.

“Lho Bu?” Aku mulai panik. Ya kali aku gak dapet nomor antrean.

“Bentar Neng, saya butuh satu nomor lagi tapi kok gak keluar ya.” si ibu juga mulai panik dan keliatan wajah bersalah.

“Ibu nomor berapa itu?”

“Ini nomor 10.” Kemudian si Ibu bertanya ke pasien lain yang sudah mengambil nomor antrean. Begitu ditanyakan ke petugas kuota pasien hanya 10 orang.

Shit!

“Cuma 10 pak? Berarti udah habis?” Tanyaku

“Iya. Cuma 10 kuotanya.”

Antara kesal bercampur marah dan malu aku gak bisa ngelakuin apapun di depan meja pendaftaran selain mainin hp dengan fikiran kacau. Sementara itu cowok bertopi tadi sudah mendaftarkan diri di loket pendaftaran 1.

“Ya Allah lama-lama nunggu dari tadi dan hasilnya apa? Nihil? Harus balik lagi?”

Lihat tangga darurat udah males jalan, aku langsung berjalan menuju lift dan sialnya lagi liftnya lama bikin aku tambah kesel. Tak ada pilihan lain selain kembali menuruni anak tangga. Dan selama menuruni anak tangga itu tak henti-hentinya mulut aku komat-kamit di balik masker yang aku kenakan, saking nahan kesal.

Begitu sampai lobi depan aku langsung kirim pesan ke Mamah, kalau aku kesel banget sama kelakukan si ibu itu. Ditambah karena ini pertama kalinya bagiku berobat ke rumah sakit ini dan aku belum punya pengalaman apa-apa. That’s was my first time! First experience.

Gak apa-apa. Besok lagi aja. Jadi pengalaman. Kan baru pertama kali.

Meski jawaban Mamah gitu tetep aja rasa kesal di hati bercampur marah udah pengen meledak saat itu juga. Tapi ya mikir lagi, ini kan di rumah sakit. Ya kali marah-marah kayak orang kesurupan.

Diluar hujan udah mulai turun. Niat mau pesen ojol malah buru-buru  keluar dari halaman rumah sakit, jalan kaki cepet sambil mulut gak berhenti menggerutu. Mata udah mulai sembab karena sebenarnya udah pengen nangis kejer.

“Dasar si Ibu yaa mau disumpahin apa nyerobot….”

Teh mau ke mana?” belum selesai aku ngucapin sumpah serapah, seseorang datang berjalan di sisiku mengimbangi langkah kakiku yang cepat. Ternyata cowok bertopi tadi.

“Mau pulang.” Jawabku sedatar mungkin sambil liat ke langit biar air mata gak turun.

“Kok pulang?”

“Habis mau gimana lagi, antreannya diserobot. Kuotanya juga udah habis.”

“Pantesan saya cari kok malah pulang. Malah si ibu itu yang daftar. Padahal Teteh duluan kan ya tadi yang daftar.”

“Iya gak apa-apa kok.” Padahal dalam hati masih jengkel dan ini lagi duh nambah malu lagi. “Besok kira-kira jam berapa ya?”

“Besok jam 8 Teh atau enggak sama kayak sekarang jam 4 tan. Cuma gitu iya ambil antrian 2 jam sebelum pendaftaran.”

“Oh iya. Iya. Duluan ya.” kataku buru-buru karena sebenarnya malu ketahuan pulang duluan padahal antre bareng. Sementara itu dia hanya mengangguk sopan sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

Dan tanpa sadar aku malah sudah berjalan jauh dan hampir sampai rumah dengan pakaian yang agak kebasahan karena hujan.

Ya Allah mau sumpah serapah gak jadi karena keburu dipotong pertanyaan cowok tadi. Thanks Allah for saving me. Makasih karena pada akhirnya aku gak ngedoain yang enggak-enggak. Takut doa buruknya malah balik ke kita. Ya udah doain aja biar si ibunya sadar gak nyerobot antrean lagi.

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman setia.” (Q.S. Fussilat: 34)

But wait, I’ve realized. Kan tadi pas aku turun tangga itu dia masih ada di meja pendaftaran dan selama aku turun tangga juga gak ngerasa ada orang yang ngikutin dari belakang. Kok cepet banget ya jalannya? Bisa nyusulin gitu. Ah mungkin dia nyusulin aku takutnya aku malah pulang sehabis dapet antrean. Semoga gak ketemu lagi kalau berobat. Mau ditaruh di mana mukaku. Hiks :’(

Di sisi lain aku juga kurang cekatan. Yes, I admit that I was wrong. Besok-besok lagi mau diem depan mesin pengambil nomor antreannya aja sambil search dulu dokter mana yang bagian tugas. Biar gak kejadian kayak tadi lagi. Diserobot antrean sama orang lain.

Be patient,

Saturday, December 25, 2021

Drowning (At Swimming Pool in 170 cm Depth!)

December 25, 2021 0 Comments
canva.com


Bismillahirrahmanirrahiim

On last Monday, I and my friends visited Jati Sewu Cibungbang swimming pool, located at Baregbeg, Ciamis. I was excited when arrived there. I immediately took a picture, went for a walk around, and I was so happy.

I didn’t know why I was so happy. Maybe because after six months I never travel, just stay at dormitory. I thought so. Udahlah habis itu I prepared for swimming, because my plan was swimming. My friend, Unni told me about the swimming pool but I didn’t care and I just followed Aa who tried the depth of swimming pool. You can guest what happen next. Of course. I drowned, I was panic and Unni didn’t realize that I drowned. She thought that I and Aa played together in the pool. OMG!

Doc. Pribadi

And it was true! There was no one helped me. I tried for holding Aa’s hand but he tried to let my hand. Aa is my friend’s son. He is third grade of Senior High School which his body is smaller than me. You can imagine it! Ya Allah. My mind was messed up and I just thought that I would die at that time. I tried to do the same thing but it wasn’t work out. I’ve given up and then I heard my other friends shouted that I drowned. Habis diteriakin gitu barulah yang lain mulai panik dan berkumpul di pinggir kolam. Temanku itu langsung menceburkan diri dan membantu aku untuk keluar dari air. The process was not easy! Gak tahu kenapa susah sekali untuk aku menapaki tangga kolamnya dan aku malah kembali lagi ketarik ke dalam dan temanku mulai kewalahan karena aku susah didorong menuju tangga kolam. Finally, I tried hard to step on the pool ladder and alhamdulillah I could! Huhuuuu.

From this experience I got some lessons:

  1. Beware. Follow the instruction. If you go to the swimming pool please ask the pool guard about the depth of swimming pool. Jangan kayak aku langsung nyebur gitu aja.
  2. If your friend is talking please listen her/him. Don’t just ignore it. Aku kan gitu, coba kalau aku mendengarkan dengan baik, maybe I wouldn’t drown.
  3. Don’t be panic. Actually, kalau aku kemarin bisa tenang pas lagi tenggelam, aku bisa mengapungkan diri aku sendiri kemudian berenang sedikit ke tepian. Karena panik itulah aku malah mencelakakan diri aku sendiri.
  4. Lastly, I think this is very important. Kalau gak bisa renang dan ingin berenang kamu WAJIB ditemani oleh teman atau orang tua atau siapapun itu agar kamu terawasi. Udahlah gak bisa renang, renangnya sendirian nanti giliran tenggelam siapa yang mau nolongin? Aku aja yang ada temen mereka nyadarnya telat kalau aku itu sebenarnya tenggelam.

Truly, when I got out from the pool I was embarrassed and wanted to cry. I hope you can learn from my experience.

Have a great holiday!

Love,

Sunday, November 28, 2021

Allah Who Makes it Easy

November 28, 2021 0 Comments
www.pixabay.com


Bismillahirrahmanirrahiim

Tidak terasa sudah memasuki hari-hari terakhir di bulan November. Itu artinya obat yang harus aku konsumsi juga tinggal tersisa beberapa butir lagi. Rasanya senang sekali karena tidak lagi harus meminum obat ditiap pagi. Even I realized, yesterday I was furious and disappointed why Allah gave me this test. Sampai-sampai aku bilang gini, Ya Allah why me? Kenapa harus aku yang melalui ujian ini? Kenapa orang lain yang pola hidupnya lebih parah dari aku mereka bisa tetap sehat dan bisa makan apapun sepuasnya mereka tanpa harus merasa sakit? Allah maksudnya apa ngasih aku ujian begini? Aku capek harus sakit mulu, bolak-balik rumah sakit, minum obat setiap hari, menahan rasa sakit. Dan berbagai keluhan lainnya yang sesungguhnya tidak pantas aku utarakan karena sakit itu sendiri memang bersumber dari pola hidup aku yang tidak sehat.

Maka setelah rasa sakit itu datang mau tidak mau dimulai dari makanan, aku hanya bisa memakan sayur bening, buah, minum air putih. Tak ada lagi makan makanan berasa gurih, pedas, jeroan, lemak-lemak tertentu. Mau tidak mau akupun harus memaksakan diri untuk berolahraga minimal 15 menit setiap hari. Sampai akhirnya proses itu masih berlanjut hingga hari ini dan karena sudah menjadi kebiasaan, hal yang pada awalnya terasa berat kini menjadi ringan bagiku. Ditambah dulunya aku yang malas sekali untuk berolahraga, kini satu hari terlewat serasa seperti ada yang kurang :D. Kini efeknya pun terasa di badan. Meski berat badan masih stuck di angka itu, tapi baju-baju mulai terasa longgar dan badan menjadi lebih segar.

Pada hari Selasa, 12 November 2021 aku mendapatkan email dari Aida Azlin, seperti biasa #AATuesdayLoveLetters dengan judul In A Difficulty? Find Your Ease. Dalam tulisannya itu Aida bilang bahwa saat ia menemukan kesulitan, her mindset switch from “struggle-stricken” to “solution-driven”. Ditambah dalil Q.S Al-Insyirah 5-6, “Sungguh setiap kesulitan bersama kemudahan, sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” Kemudian ada satu kalimatnya yang membuat aku kembali merenung,

But the ease is a mystery and so it is our job to find it.

And then, I try to find the ease from my test. Sekilas memang kayak Allah is unfair for my life. Tapi dibalik rasa sakit yang aku derita, selain sebagai penggugur dosa memang betul ada kemudahan di sana yang aku sendiri baru bisa menyadarinya setelah akan selesai menjalani pengobatan. Kemudahan-kemudan itu diantaranya:

  1. When I was sick, my father always accompanied me to visit the doctor. Even he was not full time, but he always was there when I needed something. Hal ini yang bikin aku pengen nangis. Padahal pas aku masih harus bolak-balik rumah sakit bulan kemarin, dagangan kedua orang tuaku sedang merosot. Tapi demi anak mereka rela berkorban.
  2. My mother pays me more attention. Sosoknya yang biasanya cuek dan dingin berubah total menjadi penuh perhatian. Until this day, she always cooks the healthy food for me. Padahal biasanya she rarely cooks anything. She always texts me or calls me, asks me about my condition. And one day, she forces herself to go to my dormitory for ensuring that I’m ok. It’s amazing for me. And I’m grateful for it. Thanks Allah!
  3. Aku yang dulunya pengen diet dan tidak pernah kesampaian karena selalu saja gagal dengan makanan, pada akhirnya kini mau tidak mau aku harus menjalaninya. Begitupun dengan olahraga yang dulu jarang banget dilakukan akhirnya kini mau tidak mau harus dilakukan agar membantu proses penyembuhan. Mungkin dengan cara ini Allah memberikan kemudahan bagi aku untuk menjalani proses diet. Alhamdulillah kini sudah terasa manfaatnya meski pada awalnya terasa berat saat dilakukan. Kadang aku berfikir apa jangan-jangan rasa sakit ini Allah kasih ke aku sebagai teguran bahwa sudah seharusnya aku diet dan menyanyangi tubuh aku sendiri?

Such as Aida said that our job is to find the ease, exactly it’s really true. I have realized when I almost pass this condition. Diawal boro-boro. Yang ada semuanya kayak udah gelap, kayak Allah itu jahat banget sama aku. Memang benar, kita akan menyadari bahwa kemudahan-kemudahan itu selalu ada di setiap perjalanan yang kita anggap sulit, saat kita akan berakhir diujung perjalanan itu atau setelah kita melalui perjalanan itu sendiri.

Mungkin perlu diimani lagi Q.S Al-Insyirah ayat 5-6. Meski sering dibaca dan saat dilihat terjemahnya terbilang mudah ternyata saat dijalani tak semudah yang diucapkan.

Allah, please forgive me! For the bad prejudices that I did yesterday.

Semoga kita selalu segera menyadari bahwa dari setiap perjalanan sulit yang datang akan selalu ada kemudahan yang mengiringinya tanpa harus menunggu perjalanan itu usai atau bahkan saat kita telah usai melewatinya. Sehingga kita terhindar dari sikap suudzan kepada Allah.

with love,

Thursday, November 25, 2021

Yang Lalu Biarkan Berlalu

November 25, 2021 0 Comments
Photo by Brett Jordan from Pexels



Bismillahirrahmanirrahiim

Hari itu saat aku sedang berselancar di Instagram, aku mendapatkan sebuah informasi mengenai layanan konsultasi psikologi gratis yang diadakan oleh Klik.Klas @klik.klas bersama Rumah Amal Salman @rumahamalsalman dan Psikologi Bergerak @psikologibergerak yaitu Layanan Psikologi #TemaniTeman dan #TemaniNakes Batch 3. Ada beberapa syarat dan ketentuan yang harus diikuti. Diantaranya me-mention tiga teman di kolom komentar, share postingan di Ig story atau di grup masing-masing tapi aku memilih untuk men-share postingannya di Ig story. Berkomitmen mengikuti layanan psikologi sesuai jadwal yang telah disepakati. Setiap peserta hanya dapat berkonsultasi sekali dalam sepekan. Durasi konsultasi selama kurang lebih 60 menit. Meski hanya mendapatkan jatah satu kali konsul dengan durasi waktu 60 menit menurutku itu lebih dari cukup. Selain syarat dan ketentuan tersebut, setiap peserta yang ingin mengikuti layanan ini pun harus mengisi form di Google Form yang telah disediakan oleh panitia.

Instagram @klik.klas


Selasa, 16 November 2021 akhirnya hari itu tiba dan sesi konsultasi psikolog aku dilaksanakan tepat pukul 11.00 sampai 12.00. Melalui Google Meet aku log in 15 menit lebih awal sesuai peraturannya. Dan ternyata saat aku log in itu, psikolognya sudah stand by dan tidak perlu menunggu jam 11 pas. Psikolog aku, Marina Yollanda, langsung menyapaku, bertanya mengenai identitasku dan juga kabarku. Sesi konsultasipun berlangsung sampai pukul 12 tepat.

Hal yang aku konsultasikan adalah mengenai rasa ketakutan aku akan suatu hal yang belum pasti terjadi (overthinking) karena aku pernah mengalaminya di masa lalu. Fikiran-fikiran negatif ini sering muncul menjelang aku tidur yang pada akhirnya membuat aku susah tidur dan tidur aku pun tidak nyenyak. Dan hal ini benar-benar mengganggu jam tidur malamku.

Psikolog Marina bertanya padaku,

“Coba Ihat saya mau tanya, Ihat ini hidup di masa lalu, masa kini, atau masa depan?”

“Masa kini.” Jawabku.

“Nah karena Ihat hidup di masa kini, berarti harusnya Ihat harus fokus di masa kini. Masa lalu kan sudah berlalu, sedangkan masa depan belum tentu terjadi. Bagaimana dengan ketakutan akan suatu hal karena dulunya pernah kejadian? Kita akui saja bahwa hal itu pernah terjadi di masa lalu, bukan saat ini, dan belum tentu terjadi di masa depan.”

Aku pun terdiam mendengar penjelasan dari Psikologku. Otaku kembali mulai berfikir, jangan-jangan selama ini rasa ketakutan itu muncul karena aku belum mengakui bahwa hal itu “pernah” terjadi di masa lalu dan bukan saat ini ataupun masa nanti. Bisa saja selama ini aku hidup dalam bayang-bayang ketakutan masa lalu.

“Yang perlu Ihat ingat adalah, kita tidak bisa menghindari apa yang sudah menjadi ketentuan untuk kita.” Lanjut Psikolog Marina.

Jleb! Ucapan beliau ini sangat tepat sasaran.

“Kematian, kegagalan, keberhasilan, pertemuan, perpisahan. Semua ini adalah sesuatu hal yang pasti terjadi pada setiap orang.”

Aku beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Ya Allah jadi selama ini iman aku sangat lemah sekali. Aku lupa bahwa ketakutan akan hal seperti ini sudah ada dalam Al-Qur’an.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang ditimpa musibah mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan  kepada-Nyalah kamu kembali).” (Q.S Al-Baqarah 155-156)

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.” ( Q.S Al-Hadid 22)

 Aku bersyukur sekali bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa berkonsutasi langsung dengan psikolog. Ternyata bercerita ke psikolog itu berbeda dengan bercerita ke teman. Mungkin kalau cerita ke teman justru aku malah mendapatkan sebuah judgment. Seperti “alah gitu aja difikirin. Gak usah overthinking kali. Makanya jangan hidup di masa lalu.” Meski sebenarnya urgensinya sama aja yaitu mengingatkan agar kita tidak berlarut-larut dalam masa lalu, tapi cara penyampaiannya sangat berbeda. Dengan psikolog aku bisa bercerita bebas tanpa merasa takut dihakimi. Hal-hal yang selama ini selalu aku sembunyikan perlahan terkuak di waktu yang hanya berdurasi 60 menit ini. Bebanku perlahan berkurang dan aku mulai mencari cara sendiri untuk menenangkan fikiranku dikala fikiran-fikiran negatif muncul.

  1. Mulai saat ini saat fikiran-fikiran buruk itu menghampiri aku langsung beristighfar. Karena fikiran-fikiran buruk itu bisa saja datang dari bisikan syetan membuat kita tidak yakin atas takdir Allah.
  2. Mengakui hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi di masa lalu : “ya sudah, sudah terjadi di masa lalu bukan di masa kini apalagi di masa depan.” Yang telah lalu biarlah berlalu. Life must go on. Karena mau tidak mau hidup akan terus membawa kita berjalan bukan berdiam diri.
  3. Kalaupun harus gagal lagi, tidak apa-apa. Tidak ada yang salah, hanya perlu dicoba lagi. Tetap optimis. Perkara gagal dan berhasil bukan jangkauan kita. Tugas kita hanya berusaha/berikhtiar, berdo’a, dan bertawakal.
  4. Meyakini sepenuhnya bahwa apa yang terjadi sudah dituliskan oleh Allah SWT. Apa yang harus terjadi dalam kehidupan kita sudah menjadi ketentuan kita dan berhenti berandai-andai. Karena berandai-andai termasuk orang munafik. Lihat kisahnya dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 166-168.

“…Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engaku bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (Q.S Al-Baqarah: 286)

as a self reminder,



Thursday, November 11, 2021

Alergi? Lebai!

November 11, 2021 0 Comments
Photo by cottonbro from Pexels


Bismillahirrahmanirrahiim

Sore itu sebuah perbincangan pun dimulai dengan membahas kucing, kemudian aku bilang bahwa aku tidak bisa berlama-lama bermain dengan kucing atau berada satu ruangan dengan kucing lantaran aku alergi bulu kucing. And then my friend said,

“Alergi kucing? Lebai.”

“Eh bener waktu di rumah temen waktu itu langsung pilek. Bersin-bersin. Mata merah.” Kataku ngasih penjelasan tapi yang bersangkutan terlihat bodo amat.

Kemudian temanku yang lain bilang dengan suara pelan namun masih bisa didengar jelas,

“Cewek kamu alergi kucing? Lemah.”

Aku hanya diam sambil mengunyah makananku. Ngeladenin omongan orang yang seperti itu memang tidak akan ada selesai-selesainya. Rasanya nyesek sebenarnya dikatain begitu. Toh aku juga gak mau punya alergi begitu dan itupun bukan pilihan aku.

Sebenarnya dari kecil begitu. Setiap ada kucing masuk rumah atau aku main sama kucing lama, gak cuci tangan, cepet untuk membuat aku bersin-bersin dan pilek. Bahkan pada saat main ke rumah teman sewaktu ngampus dulu, mataku langsung memerah dan bersin-bersin karena di rumahnya banyak banget kucing. Padahal kucingnya bersih. Dia sendiri yang rajin rawat kucing-kucingnya. Sampai yang pas ke dua kalinya main ke sana aku minta buat ngeluarin kucingnya jangan masuk ke kamarnya karena takut bersin-bersin lagi. Alhasil meski itu kucing udah dikeluarin dari kamarnya tetep aja masih bikin mata aku merah-merah dan bersin-bersin. Karena udah gak tahan aku langsung izin pamit pulang padahal tugas kuliah saat itu belum selesai dikerjakan.

Terakhir ketika kemarin WFH, ada kucing tetangga yang lucu menurutku, warnanya bulunya kuning kecoklatan, dan bulunya lebat. Si kucing sering banget mampir ke rumah membuat aku selalu mengelus-ngelus bulunya. Tanpa sadar saat itu aku langsung ngucek mata karena gatal dan akhirnya mataku merah dan aku kembali bersin-bersin. Setelah dari kejadian-kejadian itu meski aku ingin sekali mengelus bulu kucing; selalu aku tahan keinginan itu.

Jadi gimana? Masih mau ngatain yang alergi bulu kucing itu lebai? Lemah? Dari hal ini aku belajar bahwa kita jangan pernah menyepelekan suatu urusan orang lain. Misal karena pusing dikit, ah gitu doang pusing, atau seperti kasusku barusan. Karena kan kita tidak mengalaminya, ocoba kalau kita sendiri yang ngalaminnya masih mau disepelekan orang kayak gitu? Yang punya riwayat alergi bulu kucing pasti tahu gimana rasanya ketika alergi itu kambuh. Nyiksa sebenarnya. Mata gatelnya ampun, belum lagi hidung juga, meler, bersin-bersin. Aku juga bisa berhenti si alerginya kalau udah 4-5 jam jauh dari kucing atau berada di ruangan yang sama sekali tidak ada kucingnya.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (H.R Bukhari dan Muslim)

as a for reminder,



Friday, October 29, 2021

Belajar Dari Episode 15 Hometown Cha Cha Cha

October 29, 2021 0 Comments
Instagram tvn_drama

Bismillahirrahmanirrahiim

Siapa di sini yang sudah marathon drama korea Hometown Cha Cha Cha? Terlepas dari skandal yang sedang menimpa Kim Soen Ho (semoga segera selesai dan menemui titik terangnya ya, aamiin) drakor ini menurutku bagus dan sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja. Dari setiap episode selalu ada hal yang bisa dijadikan pelajaran. Aku sendiri baru nonton sampai episode 15 dan masih stuck di episode ini. Episode yang mengundang banjir air mata. Karena di episode ini terkuak sudah masa lalu Hong Du Sik yang selama ini disimpannya rapat-rapat.


Instagram tvn_drama

Masa lalunya ini terbongkar saat Kim Do Ha, asisten sutradara Ji Seong Hyun yang bertanya kepada Hong Du Sik tentang pekerjaannya dulu dan apakah mengenal ayahnya atau tidak. Pukulanpun dilayangkan tepat kepada Hong Du Sik membuat seluruh warga Gonjing kaget melihatnya. Dari sanalah Hong Du Sik mulai menceritakan masa lalunya itu kepada kekasihnya, Yoo Hye Jin. Kisahnya itu dimulai saat ia kuliah di Seoul dulu bertemu dengan Sunbae yang baik bernama Park Jung Woo yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri. Kemudian bekerja bersama di sebuah perusahaan hingga sebuah insiden tabrakan mobil yang merenggut nyawa Park Jung Woo. Istrinya saat itu malah menyalahkan Hong Du Sik atas kematian suaminya dan istrinya sampai bilang bahwa yang seharusnya mati adalah Hong Du Sik bukan suaminya. Di sini Hong Du Sik sangat merasa bersalah. Selain itu, Hong Du Sik juga dituding sebagai penyebab kelumpuhan yang menimpa ayahnya Kim Do Ha. Padahal kalau ditonton sampai akhir menurutku bukan kesalahan Hong Du Sik sih cuma orang-orangnya aja yang tidak siap menerima musibah sehingga menyalahkan orang lain, dalam drama ini mereka menyalahkan Hong Du Sik atas segala insiden yang terjadi.

Musibah Dalam Islam

Dalam Islam musibah yang terjadi kepada kita tidak lain dan tidak bukan karena disebabkan oleh diri kita sendiri, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S As-Syura ayat 30:

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Selain itu Allah juga berfirman di surat lain, Q.S An-Nisa ayat 79:

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu itu dari (kesalahan) dirimu sendiri…”

Lantas bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim jika mendapatkan musibah? Tentunya berdasarkan kedua ayat tersebut kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas musibah yang menimpa diri kita sendiri artinya kita harus introspeksi diri. Selain itu sebagai seorang muslim kita harus yakin bahwa segala sesuatu itu berasal dari Allah dan akan kembali lagi kepada Allah, maka ketika mendapatkan musibah yang pertama kali diucapkan adalah kalimat Istirja, yaitu Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un.

“(yaitu) orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.Al-Baqarah 156-157).

Pengalaman Pribadi

Sebenarnya sih misal kalau ada diposisi Kepala Hong tentu aku juga pasti merasa bersalah. Aku sendiri pernah mengalami hal seperti itu tiga tahun yang lalu saat anak asuh aku mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal ditempat. Sempat merasa bersalah karena mengapa mengizinkan dia buat pulang meski saat kejadian Bapaknya tiba-tiba datang buat jemput dan tidak ada konfirmasi sebelumnya. Saat aku ta’ziyah waktu itu aku nangis dipelukan Ibunya sambil bilang mungkin musibah ini terjadi karena aku yang mengizinkan. Si Ibu dengan besar hati malah menenangkan aku bahwa dalam hal ini tidak ada yang perlu disalahkan semuanya sudah ketentuan Allah dan mungkin sudah jalannya bagi anaknya untuk kembali kepada Allah. Aku terdiam mendengarkan ucapan Ibunya itu. Begitu tegar hati si ibu menerima dan melepaskan anaknya untuk pergi selama-lamanya.

Tak hanya sampai disitu, hari-hari selanjutnya aku sering mengeluh dan berandai-andai jika saja hari itu Bapaknya tidak datang untuk menjemput dan aku tidak memberikan izin pulang mungkin musibah itu tidak akan terjadi. Bapak aku yang mendengarnya langsung marah dan mengingatkan aku bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah di Lauhul Mahfudz dan urusan nyawa seseorang tidak ada yang bisa mencegahnya.

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.” ( Q.S Al-Hadid 22)

“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…”(Q.S Ali Imran: 144)

Dari tulisan ini aku mengambil beberapa poin untuk dijadikan pelajaran:

  1. Mengucapkan kalimat Istirja begitu kita mendapati musibah
  2. Saat mendapatkan musibah jangan sibuk menyalahkan orang lain tapi lihat ke diri sendiri, introspeksi. Karena menyalahkan orang lain tidak akan bisa mengembalikan apa yang telah terjadi/hilang.
  3. Yakin bahwa segala sesuatu sudah diatur dan ditulis oleh Allah di Lauhul Mahfudz.
  4. Tidak bereaksi berlebih saat mendapatkan kesenangan/kesulitan. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Hadid ayat 23:
    “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”
  5. Terakhir, yakinkan diri sesuai firman Allah bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan (Q.S Al-Insyirah 5-6).

Always keep spirited,

Tuesday, October 26, 2021

Bolak-Balik Rumah Sakit

October 26, 2021 0 Comments
Photo by Erkan Utu from Pexels

Bismillahirrahmaanirrahiim

Before I tell you about my story, I would like to say thank you so much for your pray because my doctor said to me that my right kidney is getting better and for the next month I have to drink water a lot, at least 3 liters a day and followed by a healthy lifestyle. Alhamdulillah. All praises be to Allah.

Almost in three weeks, I have been back and forth to the hospital absolutely for checking my disease dan setiap ke rumah sakit itu I always got a new something which made me thankful to Allah SWT. Betapa kesehatan itu adalah sebuah hal yang sangat mahal harganya when you are sick. Ketika orang-orang lalu lalang di lorong dengan infusan yang terpasang di tangan, belum lagi ada juga yang harus duduk di kursi roda didorong oleh perawat, atau yang tergeletak lemah di atas brankar rumah sakit didorong oleh beberapa orang menuju tempat pemeriksaan misal atau harus pindah ruangan. Ya Allah, pokoknya selama lalu lalang itu aku berdoa dalam hati semoga aku dijauhkan dari penyakit-penyakit yang parah seperti itu dan semoga mereka yang sakit segera disembuhkan agar bisa beraktifitas seperti biasa. 

Selain bikin aku banyak berdoa dan bersyukur saat menunggu pemeriksaan, bolak-balik ke rumah sakit juga sempat membuat aku stress dan frustasi karena ternyata penyakit yang aku derita ini dialami oleh beberapa orang dan rata-rata kasusnya udah parah. Beberapa orang bahkan sudah dipasang kateter urine. Mereka berjalan sambil membawa kantong urine membuat aku terus berdoa dalam hati agar keadaanku tidak harus demikian. Kemarin saja sempat bertemu dengan seorang Ibu-ibu yang memiliki penyakit yang sama denganku hanya saja kondisinya sudah parah, mengharuskan beliau untuk di laser dan terakhir adalah di operasi. Entah bagaimana cerita si Ibu tersebut membuat aku nangis dan ketakutan. Hanya saja beliau berpesan,

“Pokoknya Neng, Ibu mah yakin aja sama Allah bahwa Ibu akan sembuh. Laa haula walaa kuwwata illa billah. Itu yang selalu Ibu ucap. Dan Alhamdulillah sekarang Ibu udah sehat. Neng habis ini harus jaga kesehatan apalagi makanan. Udah gak boleh lagi makan jeroan, kulit-kulit, kopi, minuman bersoda. Daging sapi pun boleh asal jangan sering. Baiknya sih ulah.”

Aku pun hanya mengangguk sambil mendengarkan sementara hati terus berdoa semoga ketika nanti dipanggil dokter akan mengatakan hal-hal yang baik padaku bukan malah memperburuk keadaan. Percakapan itu selesai karena si Ibu ingin buang air kecil. Akupun langsung mengambil handphone dari dalam tas kemudian mengirim pesan kepada temanku, minta doanya agar hasilnya membaik dan dijauhkan dari segala macam tindakan apalagi operasi. 

Unn masuk rumah sakit malah tambah stress :'((( doain aku Unn semoga hasilnya baik

Sambil ngetik sambil nangis juga. Dikasih cerita gituan iyalah bikin aku nge-drop.

Iya rumah sakit itu tempatnya kita banyak bersyukur. Enggaklah. Insya allah. Yaaqiinnn…

Aku termenung setelah membaca pesan dari temanku itu. Iya ya saat kondisi seperti ini tentu yang diminta sama Allah pasti sehat gak ada yang lain. Karena kesehatan itu gak bisa tergantikan dengan apapun. Dengan tubuh kita yang sehat kita bisa kerja, sekolah, olahraga, main-sana sini, kemudian mau makan apapun juga bebas gak ada pantangannya.

Tak lama kemudian aku pun dipanggil dokter dan Alhamdulillahnya kondisiku membaik hanya saja masih harus minum obat dan minum air putih yang banyak juga tentunya.

Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obatnya sesuai dengan penyakitnya, maka akan sembuh penyakit itu dengan izin Allah ‘azza wajalla. (H.R. Muslim)


May Allah always give us health,

Sumber hadits:

https://tarbiyah.net/semua-penyakit-ada-obatnya/

Wednesday, October 20, 2021

Sehat Itu Mahal!

October 20, 2021 0 Comments
www.pixabay.com

Bismillahrirrahmanirrahiim

Gak pernah nyangka sih kalau rasa sakit yang selama ini dibiarkan ternyata lama-lama malah jadi parah. Awalnya iya gitu saat kondisi badan udah capek, ngantuk yang harusnya obatnya itu adalah istirahat dan mengesampingkan kerjaan ini malah terus-terusan diforsir. Pengen badan tetep fit dan biar rasa kantuknya hilang larinya malah minum kopi dan makan makanan pedas bukannya makan nasi, semisal kemarin-kemarin malah sering banget beli Cilok goreng pakai bumbu cabai, bakso dengan kuah pedas, Cilok goang juga. Minum kopi Good Day Vanilla Latte yang awalnya cuma pagi doang naik dosis dong pagi sama sore, karena tubuh masih aja ngerasa gak seger dan rasa kantuk tetep aja nyerang move lah ke kopi Americano. Actually, this is my first time I bought Americano in Coffee Shop, usually I ordered Vanilla Latte. Because it tastes sweet, I tried another coffee which didn’t content milk and sugar so last time I tried Hot Americano. That was truly what else? This coffee it tasted sour, bitter, and bland for me yah but made me fresh and my sleepiness disappeared. I thought my problem was solved but it didn’t and it made the situation worse.

After that, perut aku sebelah kanan sampe pinggang kanannya kerasa sakit banget. Panggul yang sebelah kanan juga kerasa panas gitu. Cuma waktu itu sakit di area pinggang masih hilang timbul. Sering mual bahkan sempet beberapa kali muntah. Periksa lah ke dokter ternyata sakit Maag. Habis obat tuh udah agak mendingan tapi besok-besoknya kerasa lagi si sakitnya bahkan sakitnya udah bukan hilang timbul lagi, frekuensinya makin sering timbul. Periksa ke dokter lain dan aku didiagnosa sakit Infeksi Saluran Air Kencing. Diceramahilah lah aku sama si dokter gegara kurang minum. Habis itu ya back to my boarding and do activity as usually sembari diminum tuh obat sama banyakin minum. Anehnya itu masih aja kerasa sakit dan si mualnya ini justru malah sering terjadi. Ditambah sakit kepala, tidur gak nyenyak karena gak bisa menghadap ke kanan soalnya sakit banget si pinggang kanan. Liat di cermin wajah udah pias gitu kayak mayat hidup, tapi aku support diri aku mungkin cuma perasaan aku aja kali everything is gonna be allrigth bentar lagi juga sembuh. Gak lama pas sore, Mamahku video call dan malah bilang kok mukaku kayak mayat, pucat gitu. Besoknya entah gimana aku bener-bener ngerasain yang namanya sakit gak ketahan. Pusing, mual, sakit perut kanan atas, pinggang kanan iya kayak ditusuk-tusuk jarum gitu akhirnya aku memutuskan buat periksa lagi ke dokter diantar Bapak dan dokter aku itu jadi bingung lantaran perut kanan atas aku sakit banget jadi diagnosa ke tiga kalinya ini aku dinyatakan dikhawatirkan ada gejala batu empedu. Ngeng! Kaget lah. Harus di USG biar jelas sakitnya apa dokternya bilang begitu. Beberapa hari kemudian karena ternyata gak ada perubahan aku berobat ke Puskesmas buat minta rujukan ke Rumah Sakit. Dapetlah rujukan itu dan aku dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam dengan diagnosa batu empedu. Sesampainya di dokter spesialis penyakit dalam, dokter mendiagnosa aku kalau aku iya ada sakit Maagnya cuma yang sakit di perut kanannya harus di USG takutnya Liver. Astaghfirullah. Pengen nangislah aku di sana cuma aku mikirnya ini kan kata dokter masih ‘ditakutkan’ dan belum tentu nanti hasil USG nya begitu. Diperiksalah aku di USG Abdomen, jenis USG untuk mendeteksi mendiagnosis penyakit seperti batu empedu, batu ginjal, aneurisma serta abdominalis, neoplasma hepar, dan karsinoma pankreas (www.alomedika.com). Dokter yang di USG nya itu cuma bilang katanya aku harus banyak minum, udah gitu aja. Aku fikir oh mungkin sakit aku gak parah-parah amat syukurlah bukan Liver atau Batu Empedu. Eh, keesokan harinya saat hasil USG nya diserahkan ke dokter spesilais penyakit dalam ternyata ada pembengkakan di ginjal kanan (bahasa kedokterannya Hidronefrosis bisa googling aja sendiri ya! Karena emang bener-bener gak bisa dianggap sepele dan bisa bikin fatal kalau dibiarin). Kaget bener lah di sana udah kayak disambar petir denger kabar itu. Karena si batu ginjalnya gak kedeteksi dari hasil USG nya jadi dari Poli Dalam ini aku dirujuk ke Poli Bedah Urologi buat memastikan parah enggaknya. Aku bener-bener pengen nangis tapi malu ditambah bingung karena gak tau di sebelah mana Poli Bedah Urologi ini. Sempet muter-muter di dalam Rumah Sakit dengan fikiran yang kacau dan takut sampai akhirnya ada orang yang mau nunjukin jalannya bener. Saat itu aku periksa sendiri ke rumah sakit karena orang rumah sibuk. Sampailah aku di bagian Poli Bedah Urologi. Sambil nangis terisak tertahan aku kabari Mamah aku soal penyakit aku, si Mamah buru-buru nyuruh Bapak yang lagi belanja di Pasar buat jemput aku di rumah sakit. Lumayan lama nunggu dokternya sampai akhirnya pas giliran aku diperiksa dokter yang di Urologi itu bilang kalau penyakit aku kali ini dikategorikan masih ringan jadi belum ditindak (semoga aja jangan dan enggak aamiin) dan cuma dikasih obat. Selain itu dokternya pun nyuruh aku buat minum air putih yang banyak, 3 liter perhari. Jangan minum yang aneh-aneh cukup minum air putih aja.

Dari kasus aku di atas, I highlighted some points:

  1. Kalau udah kerasa capek banget please take a rest for while. Gak usah maksain kerja dulu. Dari pada bikin badan drop dan jadi lama sakitnya kayak aku. Taking a rest kan bisa sehari atau dua hari lah ya. Menurutku itu udah cukup dan bisa bikin badan kembali seger. Cuma emang bener-bener harus istirahat bukan malah dipakai aktifitas lain yang bikin badan jadi capek.
  2. Selain taking a rest, your body also need nutritional foods. Jangan kayak aku larinya malah ke minum kopi gak pake aturan dan makan makanan pedes.
  3. Minum air putih yang banyak minimal 2 liter sehari WAJIB! Jangan kayak aku ya huhuuuu udah parah aja baru.
  4. Kelola stress dengan baik. Yang aku dapatkan hikmahnya dari sakit aku kali ini namanya kerjaan jangan difikirin tapi dikerjain kalau udah dikerjain ya udah gak usah cemas dengan hasilnya, toh soal hasil kan bukan urusan kita itu mah urusan Allah. Biar Allah yang atur sisanya. Kemaren-kemaren iya gitu banyak khawatirnya, khawatir dengan hal-hal yang belum tentu terjadi. Selain itu hal sepele selalu diambil pusing. 🙁
  5. Jangan males olahraga. Iya jujur olahraga adalah hal yang paling malas buat dilakukan. Padahal sebenarnya kalau udah olahraga meski itu cuma senam lantai ngikutin yang di YouTube selama 15 menit itu bikin fikiran jernih dan stress bisa hilang. Dasar males akunya aja lebih gede daripada kesadarannya padahal manfaatnya udah dirasain sendiri.

Lastly please pray for me ya. Next week I have to see the doctor for checking-up. Hopefully the result is good and just followed by healthy lifestyle. Aamiin.

Love,

Saturday, October 02, 2021

To Be A Career Woman?

October 02, 2021 0 Comments

Photo by Christin Hume on Unsplash

Bismillahirrahmanirrahiim

Pagi itu aku putuskan untuk langsung mandi sehabis bubar dari masjid karena akan ada orang tua santri yang menjemput anaknya lantaran ada acara wisuda di sekolah sebelumnya. Masih pagi dan mentari baru bersinar, orang tua santri tersebut benar menempati janjinya dan sudah sampai di gerbang depan utama tepat pukul tujuh pagi. Sebelum pulang itu, anaknya izin pamit sebentar sama teman-temannya. Sambil menunggu si anak pamitan, si ibu bertanya,

“Ukhti gimana anak saya di sini? Dia baik-baik aja kan?”

Alhamdulillah baik ibu. Dia di sini ceria, mudah bergaul sama temen-temennya.”

“Syukurlah kalau gitu. Tapi bener kan dia baik-baik aja?” Si ibu mengulang pertanyaan yang sama, sepertinya si ibu belum puas dengan jawabanku barusan.

“Baik kok bu. Enggak gimana-gimana.”

“Enggak nyari perhatian lebih kan sama Ukhti?”

Aku mengernyitkan dahi. “Perhatian lebih ibu?”

“Iya Ibu cerita dikit ya. Jadi waktu itu dia di sekolahnya pas SD sering nyari perhatian-perhatian dari temennya sampai akhirnya dia kena bullying.

“Kena bully ibu?”

“Iya. Dia nyari perhatian gitu karena dia gak nerima perhatian dari saya. Saya sibuk kerja sampai lupa gak ngasih perhatian sama anak. Setelah kena bully itu apalagi pas dia depresi, harus konsultasi ke psikolog saya barulah berhenti kerja. Dulu saya gila kerja sampai lupa sama anak. Semenjak dari sana, saya resign, fokus ngurus dia di rumah, ngasih perhatian yang selama ini hilang dan alhamdulillah kondisinya membaik. Makannya saya sebenarnya takut ketika ngelepas dia ke sini, apalagi sekolah asrama jauh dari saya takutnya dia gitu lagi. Nyari-nyari perhatian dari orang lain. Dia kan baru deket sama saya baru tiga tahun kebelakang ini. Cuma memang ini pilihannya sendiri. Saya bahkan awalnya maksa dia buat sekolah di Negeri aja yang deket rumah, tapi dianya gak mau. Pengen ke sini.”

Obrolan pagi itu entah mengapa terasa seperti pukulan bagi aku yang memang pada awalnya aku berniat ingin menjadi seorang career woman. Career woman atau wanita karir itu sendiri menurut Samsu (2020, p.67) adalah seseorang wanita yang menjadikan pekerjaan atau karirnya sebagai prioritas utama dibandingkan pekerjaan dan status lainnya. Definisi ini benar-benar menggambarkan sosok ibu tersebut. Dari pengakuannya aja kan si ibu itu gila kerja dan parahnya sampai lupa sama anak. Setelah mendengar curhatan si ibu aku jadi sadar bahwa ada harga yang harus dibayar saat kita memilih sesuatu hal. Karena pada hakikatnya kita tak bisa memilih dua hal secara sekaligus bukan? Pasti harus ada salah satu yang diprioritaskan. Sebenarnya gak ada yang salah sih ya ketika kita, as a woman choose to be a career woman. Asal hak dan kewajibannya dijalankan secara beriringan. Although is not easy especially I still single now. Aku belum tahu pasti gimana rasanya jadi seorang istri yang harus berperan sebagai ibu dan juga wanita karir. Tapi mendengar dari kisah si ibu itu ada satu hal yang aku petik bahwa tugas utama kita sebagai seorang ibu ya mendidik anaknya, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anaknya. Boleh sih kerja, tapi jangan sampai gila kerja juga lupa sama anak, tau-tau anak udah depresi dan harus ke psikolog. Bukankah bayarannya lebih besar ya ketimbang misal dari awal resign kerja atau ya kerjanya sesuai porsi aja tetap ngasih waktu buat anak? Gitu gak sih?

“Jangan sampai kayak saya ya Ukhti, baru resign kerja setelah mental anak kena. Harga yang harus dibayar jelas lebih mahal Ukhti.” Ucap si Ibu menutup cerita singkatnya setelah si anak kembali dari teman-temannya kemudian pamit dan langsung pergi pulang.

Aku kembali merombak cita-cita aku, rencana aku ke depan. Kalau harus fokus dan egois mementingkan karir, pencapaian sendiri, bagaimana dengan anak nanti? Mikirnya udah kejauhan ya heheee, tapi gak apa-apa sih. Lagi pula ini kan baru rencana sisanya Allah yang menentukan.

Cheers,

Sumber:

Samsu. (2020) . Persoalan Wanita Karir Dan Anak Dalam Keluarga Pegawai Negeri Sipil (PNS) Di Provinsi Jambi. Harakat An-Nisa Jurnal Studi Gender dan Anak,5(2),65-71. DOI: https://doi.org/10.30631/harakatan-nisa.2020.52.65-71

Wednesday, September 22, 2021

Ayo! Pahala Menanti!

September 22, 2021 0 Comments

Photo by Nathan Lemon on Unsplash

Bismillahirrahmanirrahiim

Hai semuanya! Lama tak menulis ya ampun setelah dua bulan kemarin sibuk karena masuk lagi pondok dan blog aku tiba-tiba gak bisa diakses. Dan yah pas barusan aku cek alhamdulillah bisa diakses lagi. Padahal gak aku laporin ke penyedia hostingnya. Males. Fikirku ditambah pasti ribet ngurusinnya. Ya kenapa mikir gitu soalnya kerjaan di asrama juga lumayan seabrek. Hehee. Kebagian ngurus santri baru extra banget ngurusnya. Selain mereka yang harus adaptasi dengan lingkungan baru, aku pun sebagai wali asuhnya mereka juga sama perlu adaptasi. Perlu mengenali mereka satu-persatu dan itu gak mudah! Hohoo. Iyalah, enam tahun kemaren kan aku ngasuh anak yang sama yang gak pernah dirubah-rubah tiap tahunnya. Jadi gak perlu adaptasi juga. Aku udah tau karakter mereka gimana begitupun dengan mereka yang udah tau karakter aku gimana. Udah sama-sama ngerti jadi pas di lapangan kan enak gitu jadi saling-saling lah. Nah yang sekarang? Masya Allah. Udahlah kebanyakan anak-anak libur ya gak sekolah, kurang lebih satu tahun adalah ya gegara Covid-19. Yang biasanya di rumah rebahan, main hp, bisa delivery order makanan sepuasnya, jam tidur dan bangun yang berantakan eh sekarang pas masuk ke asrama gimana gak shock kan mereka? Bangun harus jam tiga mau gak mau karena antri WC, makan diatur, gak ada hp, kegiatan udah mulai full. Sudahlah kebanyakan dari mereka kemarin-kemarin mulai tumbang dan asli bikin stok kesabaran aku akhirnya habis. Dan aku sebagai manusia biasa juga pasti ujung-ujungna aku kesel, marah, dan nangis.

Puncaknya itu pas empat hari yang lalu lah ya. Pas anak asuh aku sakit maag dan asmanya kambuh lagi. Aku mulai curiga ini anak gak bisa jaga pola makan dan istirahat. Eh pas ditelusuri bener! Awalnya dia gak ngaku habis makan pedes gitu, pas aku tanya-tanya lagi begitu sampai klinik, dia dengan suara pelannya mengakui. Udahlah aku udah gak mau ngomong panjang kali lebar lagi karena emang udah kesel banget. Mau tau apa penyebabnya? Sebelumnya dia maksain diri buat ikut olahraga ditengah kondisinya yang baru saja sembuh, terus dia jarang makan karena malas, dan terakhir yang paling fatal adalah dia minum susu plus keripik yang rasanya itu manis, pedes, asem dalam satu waktu! Fixed! Itu mah nyari mati sendiri batinku. Orang yang sakit maag kan belum boleh minum susu, makanan pedes, asem, keripik lha ini? Dicampur dalam satu waktu dengan kondisi badan yang udah capek habis olahraga.

Dia engap-engapan sekaligus nahan rasa sakit di ulu hati dan juga rasa panas terbakar di dada. Dan dia gak bisa jalan buat ke klinik depan. Mau gak mau aku harus bawa kursi roda ke depan dong dengan kondisi aku yang lagi haid ditambah lagi sumilangeun/sakit pas haid. Sambil dorong kursi roda udahlah tangisku pecah. Kesel, pengen marah, pengen teriak bercampur aduk dalam hati. Tapi aku gak bisa berbuat banyak selain bawa ini anak ke klinik. Dan selama perjalanan ke klinik itu, aku gak banyak omong. Saking udah keselnya. Dan beneran dong pas di klinik apa kata dokternya, pola makan dia buruk banget. Begitupun saat aku menghubungi orang tuanya, orang tuanya juga jadi kesel karena si anak gak bisa nurut plus diatur. Melayang lah uang seratus lima puluh ribu. Padahal kalau dia bisa jaga pola makannya dan istirahatnya itu uangnya bakal masih utuh di dompetnya.

Setelah selesai mengantarkan lagi anak ke asrama, aku balik lagi ke klinik buat ngembaliin itu kursi roda. Rasanya itu kursi udah pengen aku lempar aja saking keselnya. Eh tiba-tiba pas di gerbang depan asrama ada seorang santri yang sedang memanggil temannya,

“Ayo! Cepetan! Jangan capek! Pahala menanti!” Teriak si anak polos pada temannya yang masih berada di asrama. Aku yang melewati si anak tersebut diam sejenak dan ngerasa kayak tertampar sama ucapan si anak barusan.

Ukhti mau ke klinik lagi?”

“Iya.” Jawabku pendek sambil kembali mendorong kursi roda kosong.

Ya Allah. Malu banget! Padahal kan membantu orang yang sedang kesulitan itu sesuatu hal yang terpuji bahkan bisa mendatangkan pahala bukan? Jadi kenapa mesti marah-marah?

Sekembalinya aku dari klinik aku kembali pergi menemui anak itu dan menasehatinya supaya dia bisa jaga pola makan dan istirahatnya sekaligus mengingatkan tidak usah memaksakan diri jika memang tak sanggup dan malah menyakiti diri sendiri.

Kadang ada aja hal yang menegur kita secara tidak langsung. Entah itu misal dari percakapan orang lain, dari curhatan orang lain, atau seperti aku barusan dari teriakan seorang santri untuk temannya. Mungkin itu adalah cara Allah mengingatkan. Please, forgive me Allah 🙁

Regards,


Sunday, July 11, 2021

Jomlo? Terlambat Menikah? Menunda Pernikahan? Ini Alasannya!

July 11, 2021 0 Comments
Photo by Ahmed Nishaath on Unsplash


Bismillahirrahmanirrahiim

Memasuki usia 24 tahun membuat saya terkadang harap-harap cemas. Kejutan apa yang akan saya terima di usia 24 nanti? Mengingat saya pernah membuat peta hidup dan di peta hidup saya, saya menulis bahwa saya akan menikah di usia 24 tahun. Hehee :D.

Oh berarti udah ada calonnya?

Waduh kalau ditanya begitu saya langsung jawab pelan, belum sambil geleng-geleng kepala dan nyengir. Disusul dengan ucapan, doakan saja ya. Dengan hati dongkol sebenarnya, mengingat saya menjomlo terlalu lama. Apalagi kalau lihat teman-teman sekolah sudah banyak yang menikah. Terkadang saya selalu berfikir, kenapa ya saya jomlo terus? Ah mungkin udah takdirnya kali, belum ketemu aja. That’s a simple reason. Tapi setelah kemarin saya baca buku Marriage With Heart yang ditulis oleh Elia Daryati & Anna Farida ternyata ada 8 alasan seseorang terlambat menikah atau menunda pernikahannya, hal. 57.

1. Pergeseran budaya

Saat ini sebutan perawan atau perjaka tua tidak mendatangkan efek seseram pada zaman dulu. Sudah mulai banyak orang yang tidak malu atau merasa biasa saja, apalagi ketika mereka memiliki karir yang terbilang bagus. Mereka akan lebih santai setelah hidup mandiri, terpisah dengan keluarga besar.

Jangan lihat ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya. Di sekitaran rumah saya yang seusia saya bahkan yang usianya di atas saya masih banyak yang memilih single. Mereka disibukkan dengan pekerjaan bahkan kebanyakan mereka pergi merantau. Meski ada beberapa tetangga yang suka nyinyir soal kenapa gak nikah-nikah, kebanyakan dari tetangga di sini memilih acuh tak acuh dan tak banyak komentar. Apalagi yang tau bahwa masing-masing dari kita ini sedang kuliah/sudah lulus kuliah, mereka selalu mendukung untuk mencari kerja dulu ketimbang nikah. Orang tua saya pun di rumah tidak menekan saya untuk segera menikah. Apalagi saya baru lulus kuliah dan tabungan habis karena dipakai kuliah. Jadi ya saya mau gak mau harus ngumpulin dulu modal. Heheheee 😀

2. Hitung-hitungan ekonomis

Ada yang merasa bahwa berumah tangga berarti siap-siap punya pengeluaran lebih. Dulu, kebanyakan perempuan menikah demi jaminan hidup. Kini kondisinya berbeda. Mulai banyak perempuan yang bukan hanya mandiri secara finansial, tapu juga menjadi tulang punggung keluarga. Dengan pertimbangan ini, sebagian berpendapat bahwa menikah berarti menghadirkan tanggungan ekonomis baru. Laki-laki tak kalah cemasnya dengan hitung-hitungan ini. Sebagai kepala keluarganya, bayangan akan tanggung jawab menafkahi anak, istri, bahkan keluarga besar istri tak jarang jadi mimpi buruk di sore hari.

What’s your opinion of this case? To be honest, iya sih saya suka mikir ke sana. Kadang fikiran saya gini, gaji sekarang saya aja buat sendiri udah pas-pasan apalagi nanti kalau sama suami dibagi dua? Dan hal ini gak cuma ada difikiran saya aja, teman saya yang dulunya pas masih single mikir begitu. Tapi sekarang pas udah nikah bahkan udah punya anak bilang ke saya, saya menghawatirkan hal-hal yang gak perlu saya khawatirkan. Ternyata saya, suami, dan anak masih bisa hidup sampai sekarang. Bahkan rezeki suami saya alhamdulillah lancar setelah menikah.

Lain halnya dengan kedua teman saya ini. Yang satu dulunya bekerja, punya penghasilan tiap bulan tentunya. Suka main sana-sini sama teman-temannya kalau habis gajihan. Setelah menikah dan punya anak, dia memilih sebagai ibu rumah tangga yang hanya fokus mengurus rumah dan anak. Suatu hari pas saya main ke rumahnya, dia berbisik kepada saya.

Enak ya masih single. Punya gaji dan bisa main sana-sini. Dulu juga saya pas kerja begitu. Bisa beli barang atau apapun yang saya mau. Sekarang karena saya udah gak kerja lagi, mau gak mau saya cuma bisa nunggu pemberian dari hasil kerja suami. Itupun harus dibagi-bagi.  

Saya cuma tersenyum masam mendengarnya. Padahal gak saya tanya ya, dia sendiri yang bilang begitu.

Berbeda dengan teman saya kedua. Setelah menikah, lantaran suaminya tidak memiliki penghasilan tetap mau tidak mau dia harus bekerja. Ditambah suaminya memiliki hutang yang cukup besar. Dia bilang sendiri ke saya, saya jadi harus bantu suami membayar hutang-hutangnya dengan gaji saya yang segini. Mungkin gajinya lebih besar kamu daripada saya.

Saya hanya mendengarkan tak banyak komentar. Teman saya yang inipun sama, dia tiba-tiba cerita sendiri ke saya begitu saya main ke rumahnya.   

Jujur sih alasan ini memang kerap menghantui saya. Padahalkan ya urusan rezeki udah Allah atur kadarnya berapa. Mamah sama Bapak suka bilang sama saya, setiap rumah tangga itu urusannya beda. Kalau soal ekonomi, seharusnya bisa diatasi bersama jangan memberatkan salah satu pihak. Nah menurut kalian gimana?

3. Takut Komitmen

Menikah berarti memperoleh kemerdekaan di satu sisi dan kehilangan kemerdekaan di sisi lain. Kebutuhan biologis dan kasih sayang terpenuhi, tapi di saat yang sama hadirlah tanggung jawab “kekitaan”. Setelah menikah, yang menjadi pemeran utama bukan lagi “aku” tapi “kita” atau “kami”. Banyak keputusan yang bisa diambil dalam hitungan detik oleh seorang bujangan, tapi jadi bahan diskusi berhari-hari ketika dia telah menikah…

Waw! Memang betul sih, dengar cerita dari teman-teman saya yang sudah menikah hal sepele pun bisa jadi masalah kalau dalam rumah tangga. Misal gegara lampu kamar antara dimatikan atau dinyalakan ketika tidur, urusan bersih-bersih rumah, mengasuh anak, sampai mencari nafkah. Semuanya butuh kesadaran dan tentunya komitmen. Kalau masih single kan bebas mau ngapain juga. Paling cuma komitmen sama dirinya sendiri.

4. Takut kehilangan teman

Untuk orang yang punya rutinitas kumpul-kumpul bareng teman, pernikahan bisa menjadi lampu merah otomatis. Walau tidak semua, umumnya orang yang sudah menikah – terutama perempuan – akan mengurangi intensitasnya kegiatan hang out bareng teman dan mengalokasikan waktu yang lebih banyak bersama keluarga.

Kalau saya pribadi untuk alasan ini enggak sih. Karena saya kurang suka kumpul-kumpul. Saya lebih senang diam di rumah. Makannya kadang kalau diajak main saya suka banyak nolaknya. Heheee.

5. Tidak percaya pernikahan karena trauma

Sebagian orang melihat pernikahan sebagai dunia yang penuh dengan kebahagiaan. Di sana ada pasangan suami istri yang saling sayang dan sehidup semati. Sebagian lagi melihatnya sebagai sumber masalah, bahkan bencana.

Saya ingat begitu teman saya membuka percakapan dengan kalimat seperti ini,

“Hat, jangan fikir kalau menikah itu enak, bahagia terus karena udah pasangan. Jangan bayangin hal-hal yang indah. Karena setelah menikah semua pintu akan terbuka. Baik dan buruknya.”

Kembali lagi saya cuma manggut-manggut sambil mendengarkan celotehannya. Dalam kalaimat pembukanya itu saya bisa menangkap, bisa jadi sebelum dia menikah dia membayangkan hal-hal yang indahnya saja tanpa memikirkan resiko A atau B yang harus siap ditanggung. Maka dari itu menurut saya, penting sekali sebelum kita memutuskan untuk menikah ada baiknya kita mempersiapkan diri dulu dengan rajin membaca buku soal menikah atau bertanya kepada orang yang sudah menikah terutama kepada orang tua kita. Saya sendiri dulu mikirnya begitu, lha buat apa nikah kalau misal ujung-ujungnya cerai? Apalagi kalau udah liat berita-berita di TV, sinetron yang membahas atau menceritakan mengenai KDRT, perceraian, perselingkuhan. Mamah cuma bilang gini sama aku, setiap pernikahan itu pasti akan berbeda jalannya, berbeda takdirnya. Kalau sudah tau dari awal akan cerai, siapa juga yang mau menikah? Kenapa orang-orang tetap mau menikah padahal misal orang di sekitarnya banyak pernihakannya yang gagal, yak arena orang itu tidak tau masa depan pernikahannya akan seperti apa.

Doc. Pribadi
6. Takut tidak bisa jadi pasangan yang baik

Pernyataan ini bisa dibalik: takut kalau ternyata pasangannya tidak baik. Model pernikahan yang tersaji tiap hari di berbagi berita adalah perceraian kalangan artis. Kasus perceraian yang terdaftar di catatan sipil atau Kantor Urusan Agama tak kalah banyak, namun bergulir tanpa pemberitaan. Informasi yang setiap hari kita peroleh turut membangun persepsi kita tentang pernikahan.

Kalau ini tentu saya juga suka suudzan duluan. Maka dari itu saya suka memotivasi diri saya agar selalu menjadi pribadi yang baik. Karena saya yakin dengan janji Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 26, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik.

7. Tidak cukup uang untuk biaya resepsi

Menikah adalah saatnya menjadi raja dan ratu sehari. Rumah atau gedung disulap menjadi istana, hidangan istimewa disuguhkan, teman dan kerabat diundang, dan kabar tentang pesta besar pun disiarkan. Sudah pasti ongkosnya tidak murah, apalagi jika ada adat tertentu yang membuat pengeluaran jadi lebih besar.

Makannya saya dari mulai sekarang sudah niat dan komitmen buat nabung. Hehee. Meski jodoh belum ada dan kelihatan tapi soal uang kan harus sudah disiapkan dari sekarang. Kalaupun nanti uang udah terkumpul dan jodoh belum juga datang gak rugi juga kan? Apalagi saya tipikal yang inginnya nanti kalau nikah itu simple, gak terlalu memakan biaya yang besar dan lebih baik uangnya dijadikan bekal buat nanti sehabis nikah. Hehee.

8. Rahasia Illahi

Ada kalangan yang berpendapat bahwa usaha manusia yang paling menentukan, ada pula yang berkeyakinan bahwa Tuhan berkehendak sedangkan manusia menjalaninya.

Ini sih alasan yang memang paling dasar. Bahkan dari seluruh alasan-alasan di atas, alasan inilah yang menjadi berada diurutan atas bagi saya. Mungkin bisa jadi karena saya belum niat untuk menikah dan masih ingin menikmati hidup sendiri sembari sedikit-sedikit membantu keluarga. Karena saya mikirnya kalau sudah menikah akan sangat susah hanya untuk sekedar bisa main bersama keluarga. Pasti waktu akan banyak dihabiskan untuk mengurus suami dan anak.

Dari depalan alasan ini, adakah yang mewakili alasan teman-teman sekalian? Mari saling mendoakan, agar Allah selalu membantu kita di setiap urusan-urusan yang sedang kita hadapi.

Love,




Sumber:

Daryati, E & A. Farida. 2015. Marriage With Heart. Bandung: Penerbit Kaifa PT Mizan Pustaka

   

Wednesday, July 07, 2021

Bikin CV Ta’aruf Ala Dewi Nur Aisyah

July 07, 2021 0 Comments
Photo by João Ferrão on Unsplash


Bismillahirrahmanirrahiim

Waduh CV Ta’aruf? Udah kebelet nikah? Eh emangnya kebelet pipis? Bukanlah ya. Jadi kemaren-kemaren sempet penasaran aja gitu pas lagi bikin CV buat ngelamar kerja tiba-tiba aja sebuah ide terlintas dalam benak, kalau CV ta’aruf modelnya kayak gimana ya?  Dan pas buka lagi bukunya Mbak Dewi yang judulnya Awe-Inspiring Us, aku menemukan sebuah penanda buku dan pas aku buka dibagian yang ditandai tersebut ternyata itu membahas tentang CV ta’aruf. OMG, how can I forget this?! LOL!

Di dalam buku itu tepatnya di halaman 115, Mbak Dewi menuliskan secara singkat gambaran umum mengenai CV ta’aruf. Ok berikut ini cara membuat CV ta’aruf ala Mbak Dewi Nur Aisyah:

Pertama, profil diri. Pastinya ada profil diri kita sendiri ya. Nama, TTL, alamat, tempat bekerja, suku, golongan darah.

Saranku: kalian bisa memasukkan personal data kalian sedetail mungkin tapi yang perlu digaris bawahi janggan sampai memasukkan data palsu. Waduh bahaya banget tuh!

Kedua, gambaran fisik. Dalam kategori gambaran fisik ini, Mbak Dewi menyebutkan seperti tinggi badan, berat badan, warna kulit, tipe rambut, warna mata, riwayat penyakit, dsb.

Saranku: kalau nulis gambaran fisik kalian bisa tanyain ke orang terdekat kalian mengenai real nya diri kalian seperti apa. Karena kadang apa yang mereka lihat jelas berbeda dengan apa yang kita lihat. Apalagi soal fisik. Diingatkan lagi jangan sampai berlebih-lebihan apalagi memperbagus kondisi fisik yang tidak sesuai juga bisa bikin urusan runyam.

Ketiga, latar belakang pendidikan. Bisa disebutkan mulai dari jenjang SD. Bahkan kalau kataku dari TK juga boleh kalau mau, hehee. Asal jangan bohong aja. Dalam latar belakang pendidikan ditulis misal S1 padahal aslinya tamatan SMA.

Keempat, pengalaman kerja.

Kelima, daftar penghargaan/prestasi (kalau ada).

Keenam, gambaran keluarga.  Kalian bisa bahas soal ayah, ibu, kakak, adik kalian gimana.

Ketujuh, kriteria calon. Hihii. Ini yang paling ditunggu-tunggu. Well, sebelum beranjak menuliskan ini alangkah baiknya kalau kita udah nge list duluan dan udah difikirin mateng-mateng  mengenai kriteria calon seperti apa. Gak asal tulis yang penting dapet calon! Duh! Di dalam kategori kriteria calon, kata Mbak Dewi kita bisa menyebutkan mulai dari kriteria fisik ataupun hal lainnya seperti pendidikan, pekerjaan, suku, gambaran acara pernikahan, domisili ke depan, karier, target jangka pendek, dll.

Kedelapan, foto diri. Ini yang terakhir nih. Foto diri. Tapi foto dirinya yang terbaru ya. Jangan foto pas zaman UN SMA misal, hehee. Dan yang terpenting fotonya itu foto sendiri.

Begitulah cara membuat CV ta’aruf ala Mbak Dewi Nur Aisyah. Semoga bisa membantu kamu dan aku juga yang saat ini hendak membuat CV untuk ta’aruf. Heheeh. Kalau aku pribadi kayaknya masih harus dirumuskan mau apa aja yang ditulis di CV nya apalagi soal kriteria calon. Hihii. Tulisan di atas hanya ditambah dari opini dan juga saranku aja sih. Selebihnya itu terserah temen-temen sendiri mau dibikin seperti apa CV nya. Yang terpenting apa yang ditulis dalam CV itu bener-bener real dari dari kita sendiri yang apa adanya bukan ada apanya.

Terakhir, good luck! Semoga jodoh yang sedang diusahakan segera menemukan jalannya. Oh ya buat temen-temen yang punya ide lain/tambahan lain mengenari CV ta’aruf bisa komen di bawah ya.

Love,



Sumber:

Aisyah, D.N. 2018. Awe-Inspiring Us. Jakarta: Penerbit Ikon


#5 Awe-Inspiring Us - Dewi Nur Aisyah

July 07, 2021 0 Comments
Doc. Pribadi

Identitas Buku

Judul: Awe- Inspring Us

Penulis: Dewi Nur Aisyah

Penerbit: Penerbit Ikon

Motivasi Islami

Cetakan kesatu, Desember 2018

ISBN: 1978-602-51563-3-5

Sebenarnya buku ini udah lama aku beli dan udah tamat juga dibacanya. Cuma kemaren selama WFH dan pas habis wisuda itu aku baca lagi buku ini. Gak pernah bosan buat baca buku ini. Buku ini benar-benar membahas mengenai habis S1 mau ngapain? Ok dari mulai rencana buat lanjut kuliah lagi, bekerja, dan juga menikah. Pokoknya aku sangat merekomendasikan buku ini  buat temen-temen yang habis lulus kuliah S1. Tapi gak menutup kemungkinan buat yang masih kuliah juga bisa, jadi biar ada ancang-ancang gitu kalau habis lulus mau ngapain aja.

Selain itu menurutku buku ini juga tidak menggurui. Mbak Dewi menulis berdasarkan kisahnya sendiri, ditambah ada kata-kata mutiaranya dan juga didukung oleh dalil Qur’an dan Hadits. Bahasanya juga mudah dimengerti dan tidak jelimet gitu.

Blurb                                                                                    

“Setelah lulus kuliah lebih baik lanjut S2, menikah, atau bekerja, ya?”

“Menikah via taaruf atau keluarga?”

“Menentukan kriteria pasangan bagaimana?”

“Setelah menikah tetap bisa menggapai cita, apa bisa?”

Apabila kamu masih ragu menjawab sebagian atau seluruh pertanyaan tersebut, takut pilihanmu salah atau bahkan khawatir kelak masa depan tak membahagiakan, buku ini adalah jawabannya. AWE-INSPIRING US ditulis oleh seorang ibu muda dengan beragam prestasi nasional maupun internasional, yang membuktikan bahwa saat single, menikah, maupun setelah memiliki anak tidak akan menghentikan langkah dalam meraih cita. Dewi Nur Aisyah menuliskan dengan apik cara membuat kehidupan semakin bermakna, mulai dari memaksimalkan masa penantian, persiapan bertemu pasangan, membangun rumah tangga sejak titik awal, hingga tips agar cinta dapat berjalan selaras dengan cita.

Seperti kata awe-inspiring yang bermakna sesuatu yang mengagumkan, AWE-INSPIRING US menyiratkan bahwa bersama dengan keluarga, akan lebih banyak manfaat yang tercipta. Saat kata aku dan dia menjela KITA, akan lebih banyak kebaikan yang dikerja. Pernikahan hakikatnya adalah ajang untuk saling berlomba, melejitkan potensi bersama, dan mengangkasa berdua. Bergenggaman tangan menuju visi yang sama, bahu-membahu mengejar surge-Nya.

Inilah sebuah catatan perjalanan mengukir cinta, upaya untuk merenda asa, bersama menggapai pernikahan mulia…

Highlighted

Just because you don’t see the good in something doesn’t mean it’s not there. Allah has plan for everything. Something that seems bad at the moment can be the best thing that’s going to happen latter on. (Anonymous) – Hal. 33

Maka belajarlah untuk lebih banyak mengejar syukur, melihat dari sisi positif, dan berbagai snagka terhadap apa pun ketetapan-Nya. Yakinlah bahwa hanya skenario terbaik yang telah Allah siapkan untuk setiap hamba-hamba-Nya yang bertakwa…

“Oh Allah… Remind me that Your plans for me are better than my plan.” – Hal. 49

Karena kita meyakini, kita tidak akan pernah rugi saat melibatkan Allah dalam setiap pilihan kita, dalam setiap kejadian yang menerpa. Dan yakinlah, Allah akan sediakan pengganti yang jauh lebih baik lagi dari rasa ikhlas yang menemani. – Hal. 82

Alhamdulillah… Kembali Allah mengingatkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Jika memang sudah rezeki yang digariskan untuk sang hamba, ia tidak akan pernah lari ke mana. Begitupun sebaliknya, jika bukan rezeki kita, tidak mungkin kita akan mendapatkannya. Maka belajar bersyukur atas setiap karunia-Nya, saat Allah memberi apa yang kita pinta, pun bersabar saat Allah menangguhkan keinginan dan asa… – Hal. 217 

Tentang Penulis

Dewi Nur Aisyah adalah salah satu ahli epidemiologi dari Indonesia yang memiliki pengalaman internasional di bidang penelitian dan kesehatan masyarakat. Teman-teman bisa menyapa Mbak Dewi di:

Blog: www.dewinaisyah.wordpress.com/

Facebook: Dewi Nur Aisyah

Twitter: @dewinaisyah

Instagram: @dewi.n.aisyah