Monday, May 16, 2022

2. Mimpi Menjadi Kenyataan

May 16, 2022 0 Comments
Photo by Pixabay from Pexels


Mimpiku menjadi kenyataan. 

Tak pernah terduga tak pernah terbayangkan sebelumnya dan kini sudah di depan mata. Bandung! Salah satu kota impianku semenjak SMA... I'm coming now!

Setelah berpamitan kepada kedua orang tua sekaligus meminta restu aku memilih berangkat menggunakan bus. Sendiri. 

"Bandung." Gumamku sendiri lalu teringat pada pesan yang sempat aku kirim satu tahun yang lalu padamu melalui media sosial karena aku tak tahu nomor handphone mu. 

Aku : apa kabar?
Kamu : alhamdulillah baik

Tanpa bertanya  balik kamu begitu dingin menjawabnya. Padahal seandainya kamu tahu, aku merindukanmu sendirian di sini. 

Aku : di mana sekarang?

Tak ayal, aku kembali bertanya lagi meski aku harus memaksa diri sendiri untuk berjanji bahwa ini akan jadi pesan terakhirku padamu.

Kamu : di Bandung

Ok baiklah. Janji harus ditepati dan aku berhenti untuk menghubungimu lagi. Bandung katamu. 

Aku tersenyum perih setelah membaca pesan itu dan aku tidak menyadari rupanya ada orang yang kini sudah duduk di sampingku. Aku memilih memandangi jalanan lewat kaca jendela mobil sambil sesekali tertidur. Dan aku sama sekali tak tertarik untuk melirik wajah penumpang di sampingku ini. Yang aku lihat hanya dia memakai celana jeans hitam panjang dan sepatu coklat. Rupanya dia seorang laki-laki. 

Bus akhirnya berhenti di tempat pemberhentian akhir. Dan aku masih shock dengan kehadiranmu yang tiba-tiba dan pertanyaanmu yang seolah-olah mengolok-olok perasaanku. Aku buru-buru turun dan berjalan mendahuluimu. 

"Tan, Intan.." Panggilmu dan aku tak menggubris hingga akhirnya langkahku tetap saja tersusul olehmu. 

Kamu menyodorkan hpmu padaku. 
"Simpan nomormu di sini." 

Aku menatapnya sekilas dengan hati berdebar-debar. "Buat apa?" Tanyaku. 

"Mungkin kita bisa janjian untuk bertemu lagi dilain waktu."

Aku terdiam sambil memandangi hpmu yang masih berada ditanganmu. Dengan ragu akhirnya aku menerima hpmu kemudian mengetik nomorku. 

"Ini." Kataku sambil mengembalikan hp.

Kamu tersenyum. Senyum yang berhasil membuat aku jatuh cinta padamu sepuluh tahun yang lalu. 

"Kamu ke arah mana? Kiri? Kanan?"

"Kiri."

"Baiklah. Saya ke kanan. Sampai jumpa." Kamu melangkah pergi lebih dahulu sambil melambaikan tangan padaku.

Apa maksud dari pertemuan ini Tuhan? Tanyaku dalam hati. 

💓💓💓

Dua minggu setelah pertemuan denganmu itu kamu sama sekali tidak menghubungiku. Dalam hati sebenarnya aku ingin menghubungi kamu tapi aku tidak tahu nomor hp kamu. Dan sialnya lagi aku malah kembali mengharapkan kamu. Sesekali aku memeriksa hp berharap ada nomor baru yang masuk dan tentunya itu kamu. Tapi nihil. Hingga detik ini tak ada nomor baru yang masuk.

Aku kembali berlari mengililingi lapangan Gasibu sendirian. Hari Minggu pagi ini aku sempatkan untuk berolahraga ke lapang Gasibu. Entah angin apa yang membawaku ke sini. 

"Kamu ke sini sendiri?" Aku langsung menoleh kesamping begitu ada orang yang rupanya tengah menyapaku.

Aku mengerutkan kening dan setelah sadar siapa yang tengah menyapaku ini aku langsung menghentikan lariku.

"Kamu kok tahu aku ke sini?"

"Kalau saya tahu kamu di sini sepertinya saya tak akan pergi ke sini." 

Aku diam sambil mendengus kesal.

"Rupanya takdir sedang bekerja untuk mempertemukan kita kembali."

Aku tak menggubrisnya lalu kembali melanjutkan lari. Walau dalam hati sebenarnya aku senang bukan main karena bisa bertemu lagi denganmu.

"Saya perhatikan tadi kamu sempat mengecek-ngecek hp. Kenapa? Nunggu pesan dari saya ya?" Katamu lagi menyebalkan sambil berusaha mengimbangi laju lariku.

Aku menoleh padanya lalu mendelik kesal dan meninggalkannya. Aku buru-buru menyebrangi jalan kemudian menyetop angkot. Meski pada saat di angkot aku berusaha mencarimu tapi kamu tak terlihat sama sekali.

Rupanya dia hanya iseng sama aku. Mana mungkin kan dia serius sama aku? Akunya aja yang keburu baper. Emang dari dulu gak akan....

Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk dan membuyarkan semua fikiran-fikiran jelekku.

Kamu kok malah lari terus pulang naik angkot? Saya kan tadinya mau ngajak sarapan bareng sama kamu. 

Aku tersenyum malu sendiri dan membiarkan pesan itu hanya menyisakan centang dua biru. 

Jangan lupa di save nomor saya. Habis ini jangan pernah lari ninggalin saya sendiri. Nanti kita akan bertemu lagi dengan waktu yang telah ditentukan. Semoga Allah mengizinkan waktu untuk pertemuan-pertemuan kita ke depan. 

Hatiku dagdigdug tak karuan. Masa iya terakhir ketemu itu di acara reuni pas kita baru aja keluar SMA, 7 tahun yang lalu. Habis itu tak ada komunikasi lagi. Paling-paling pesan tahun lalu yang kamu jawab jutek itu.

Apa jangan-jangan kamu lagi patah hati kemudian sengaja ngasih pelampiasan sama aku? Atau kamu lagi diburu-buru nikah sama orang tua kamu terus kamu pilih aku buat jadi istri/calon istri sementara habis itu aku bakal ditinggal begitu saja?

Fikiran-fikiranku melayang jauh tak berarah. Rasa senangku seketika hilang dan lenyap. Kembali terbayang saat kamu dulu malah memilih jadian bersama sahabatku sendiri. 

Love,
Ihat


Sunday, May 15, 2022

1. Because of This Song

May 15, 2022 3 Comments
Foto oleh cottonbro dari Pexels


Memendam sebuah perasaan itu terasa menyesakkan bukan? Entah itu perasaan sedih, kecewa, senang, hingga bahagia karena jatuh cinta. Menyimpannya sendiri dan hanya mampu dituangkan dalam sebuah aksara di malam-malam yang dingin pada tumpukan kertas yang dikunci rapat adalah kebiasaanku. Seluruh perasaan yang aku alami hari ini selalu aku curahkan menjelang beranjak pergi untuk memejamkan mata. Karena bagiku perasaan yang dibawa tidur hanya akan membuat otak terus menerus bekerja mengingatnya lalu menjelmakannya menjadi mimpi-mimpi malam yang panjang yang terkadang meresahkan atau membuat tak keruan hingga tak ingin terbangunkan oleh suara kokokkan ayam tetangga.

Adalah hari itu. Saat aku tak mampu lagi memendam seluruh perasaan yang aku miliki sejak awal kita berjumpa maka dengan segenap keberanian yang telah aku kumpulkan jauh-jauh hari aku membulatkan tekad untuk mengirimkan sepotong lirik lagu padamu sebagai representasi dari isi hatiku.

Kau buat aku bertanya

Kau buat aku mencari

Tentang rasa ini aku tak mengerti

Akankah sama jadinya bila bukan kamu

Lalu senyummu menyadarkanku

Kaulah cinta pertama dan terakhirku.

Sherina Munaf - Cinta Pertama dan Terakhir

Dengan perasaan campur aduk dan hati yang berdebar keras akhirnya aku putuskan untuk kembali mengirimmu pesan.

Maaf salah kirim

Karena pada saat itu kita tak bisa menarik pesan yang statusnya telah terkirim. Berbeda dengan sekarang. Bisa jadi dia tak keburu untuk membacanya lantaran pesannya sudah kamu tarik. Tapi zaman itu beda. Apa yang telah kamu lakukan ya sudah. Tak bisa lagi ditarik. Hingga pesan itu aku yakin kamu membacanya dan sebuah pesan balasan sampai padaku.

Hayo buat siapa hayo? Nanti saya sampaikan ke orangnya.

Aku hanya tersenyum membacanya. Kamu itu benar-benar polos, tidak tahu, atau memang sengaja menjawab seperti itu sebagai bentuk sebuah penolakan yang halus?

Kamu tak perlu menyampaikannya pada orang lain. Kamu sendiri adalah orangnya. Bisikku dalam hati. 

Gak usah. Salah kirim kok. 

Tak butuh hitungan menit sebuah pesan kembali hadir.

Ayolah beri tahu saya, nanti saya sampaikan.

Aku merebahkan diri di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar dan membiarkan pesanmu itu tanpa membalasnya. Hingga aku tertidur kemudian terbangun di keesokan harinya dan mendapati lagi sebuah pesan darimu.

Ayo buat siapa sebenarnya pesan itu?

Masih sambil tersenyum dengan sedikit menantang aku menjawab,

Kalau buat kamu gimana?

Bergeming. Tak ada lagi pesan masuk darimu. 

Hingga akhirnya kembali berjumpa di sekolah dengan sedikit perasaan canggung. 

💓💓💓

Lagu Sherina Munaf-Cinta Pertama dan Terakhir akhirnya selesai diputar membuat aku kembali ke masa kini. Duduk sendirian tanpa mengindahkan kursi di samping sambil menikmati panorama sore yang indah dari balik jendela bus, aku tersenyum sendirian. 

"Jadi lagu itu dulu benar-benar buat saya?"  

Sebuah suara tiba-tiba muncul dari seorang penumpang di sampingku, membuat aku menoleh padanya.

"Kamu?" Aku cukup terkejut sekaligus gugup.

"Hari ini masih berlaku gak kalau lagunya itu buat saya? Bukan cuma jadi yang pertama tapi jadi yang terakhir juga."

Senyumku memudar. Antara percaya sekaligus tidak. Antara mimpi atau kenyataan karena sejatinya pertemuan ini adalah pertemuan kami setelah tujuh tahun berpisah. 

"Saya dari tadi duduk di samping kamu tapi kamunya menghadap ke jendela terus. Mungkin kamu lagi mengenang saya karena lagu itu diputar." Jawabmu penuh percaya diri sambil tersenyum menggoda. 


Love,

Ihat



Friday, May 13, 2022

Perkara Usia dan Dewasa

May 13, 2022 2 Comments
www.canva.com


Berada di detik detik akhir usia 24 menuju awal 25. Ketika Mamahku dulu tengah mempersiapkan pernikahannya bersama Bapakku. 

Dan aku kini? 

Aku kira dengan bertambahnya usia maka urusan hidup akan mudah. Karena kita tak lagi terikat peraturan seperti anak kecil yang harus selalu patuh pada peraturan. Kita bisa bebas melalukan apapun tanpa ada yang melarang, tak seperti saat kita kecil semua akses dibatasi hanya karena perkara masih di bawah umur. 

Justru yang aneh adalah semakin bebasnya hidup ini maka semakin terkekangnya kita oleh belenggu-belenggu fikiran yang menakutkan. Kita mungkin bisa hidup bebas tapi tuntutan yang tak pernah kita minta justru datang dari arah mana saja. Satu atau dua kali kamu bisa kebal menanggapinya. Tapi saat tuntutan itu berkali-kali menghujammu maka kamu akan merasa terperosok, merasa hina, merasa tak pantas karena tak bisa berada di garis yang sama dengan mereka. 

Di usia yang sama saat kita kecil, kita merasa semua yang ada di kelas sama. Mendapatkan perlakuan yang sama dari guru, mendapatkan pelajaran yang sama, pr yang sama. Yang membedakan hanya yang rajin pasti akan mendapatkan ranking dan yang malas akan tertinggal bukan begitu?

Tapi mengapa begitu memasuki usia dewasa saat usia kita sama tapi jalan kita jelas-jelas sangat berbeda. Soal kerja keras tak melulu dapat menghasilkan hal memuaskan. Bahkan tak jarang malah berakhir kesengsaraan, kekecewaan. Berbeda saat sekolah dulu, hanya perlu belajar yang benar, belajar yang rajin, taat pada guru dan juga pertaturan maka istilah usaha tak mengkhianati hasil memang betul adanya.

Lantas mengapa setelah dewasa istilah itu seolah tak berguna? Mengapa ada orang yang usahanya biasa biasa saja tapi hasilnya bisa memuaskan? Apa perkara keberuntungan hidup mulai bekerja di sini? 

Kadang dalam hati bertanya sambil melihat ke langit atas, mengapa Tuhan memberiku waktu yang amat banyak untuk hidup yang tak tentu ini? Mengapa harus melalui banyak ujian hidup di saat orang lain seusiaku masih bisa melakukan hal yang sangat ingin dia lakukan? Untuk apa waktu sebanyak ini diberikan jika aku harus tetap tegar menghadapi hantaman kerasnya deburan ombak?

Terkadang aku benci perkara usia. Maka aku tak suka merayakan ulang tahun. Aku tak suka dengan harapan yang dipanjatkan lalu meniup lilin. Untuk apa? Aku sudah bosan dengan harapan. Apalagi harapan pada manusia. Karena pada akhirnya hanya akan membuat hati terluka dan juga kecewa. Pada Tuhanku pun harapanku hanya dua,

Jika itu yang terbaik menurut Engkau maka permudah, tapi jika itu sebaliknya maka jauhkanlah.

See? Aku tak pernah lagi berekspektasi pada hal-hal lain. Sudah muak rasanya saat kegagalan justru yang menimpa. Ya karena itu. Karena harapan yang kita sandarkan adalah pada hal-hal yang tak mampu mewujudkannya. Bukankah manusia tak mampu mewujudkan harapan? Maka dari itu mengapa dalam agama yang dianutku, kita diajarkan untuk berharap tentang segala hidup ini dan memasrahkannya pada sang Maha Pencipta, Allah. Sehingga hati kita nanti apapun yang akan terjadi telah sanggup dan mampu menerima segala yang telah digariskanNya. Bukankah begitu?

Perkara usia. Perkara ulang tahun. Perkara doa panjang umur dan aku membenci itu pula. Mengapa harus meminta umur yang panjang saat teman teman se usia kita sudah pergi mendahului? Bukankah hidup terasa amat sepi karena tak ada lagi bahan obrolan dengan teman sebaya? Haruskah hanya berteman dengan radio yang menyiarkan acara "dari zaman dulu, dari tahun X" sehingga kita bisa mengenang masa-masa yang telah lalu? Bukankah itu terlalu melelahkan?

Perkara usia. Perkara dewasa yang selalu diributkan soal pencapaian. Buat apa? Buat ngerasa hidup lebih bahagia karena banyaknya pencapaian yang telah dicapai? Lantas bagaimana dengan urusan akhirat? Lupa karena terlalu sibuk dengan urusan dunia? Capek kalau terus menerus membandingkan. Tak akan ada habisnya. Yang ada kamu lupa soal akhiratmu dan malah mati dengan hati yang masih mengejar urusan duniawi.

Demikianlah pemikiran-pemikiran yang mengganggu malam ini sebelum beranjak tidur.

Good night,
Ihat

When My Overthinking Comes

May 13, 2022 0 Comments
Foto oleh Olya Kobruseva dari Pexels


Hello everyone. Happy Eid Al-Fitr. Taqobbalallohu minna wa minkun. Aamiin. Mohon maaf lahir dan batin juga ya!

H-1 menjelang Idul Fitri, I didn't know why I was so messed up. I was messed up to face tomorrow, my Eid Fitri. I was not happy to celebrate my Eid. Besides, I was also afraid to meet my big family, I was afraid with their questions. Yang terkadang suka bikin menohok dan bikin sakit hati. Such as,

"Kuliah udah lulus?"
"Udah dapet kerja?"
"Kerja di mana?"
"Mana dong calonnya. Belum dikenalin juga."

And sederet pertanyaan lain yang pada umumnya selalu dilontarkan khas Idul Fitri yang ujung-ujungnya comparing each other. 

"Eh itu kan keponakan aku udah dapet kerja di perusahaan x gajinya enak, gede, bla bla..."

"Dia kemarin kan nikahnya biaya resepsinya ditanggung sama suaminya semuanya..."

Dalam hati ngebatin, mau hidup seenak gimanapun juga part gak enaknya pasti dapet. Kita liatnya cuma pekarangannya aja sih coba kalau masuk ke dalam belum tentu seindah pekarangannya kan?

Fatalnya hal itu bikin aku susah tidur dan ketakutan sendiri atas pertanyaan-pertanyaan yang aku bikin sendiri. Dasar si overthinking! Hidup sampe hari besok aja belum tentu. Malah mikirin hal-hal yang belum terjadi. Kayak gak punya Allah aja. 

And when morning came after doing shalat Ied, to be honest aku agak mogok ketika Mamah udah ngajak kita semua kumpul di rumah saudara. Aku agak mengulur-ngulur waktu karena sejatinya aku males dan gak mau ketemu keluarga besar dari bapak gegara fikiran-fikiran aneh semalam yang aku bikin sendiri. Tapi ya pada akhirnya aku ngikut. Berjalan, ngekor di belakang Mamah dengan hati yang harap-harap cemas.

"Kalau ditanya gitu harus jawab apa ya?"
"Kira-kira mereka bakal nanya apa ya?"

Sesampainya di sana,  we gathered together, saling maaf-memaafkan, dan tenggg! Ini nih moment yang kadang bikin akward. Beberapa pertanyaan mulai terlontar menghangatkan suasana, beruntung pertanyaan yang diarahkan ke aku gak ada sama sekali pertanyaan yang aku takutkan: yang menyinggung aku. Dan aku bisa rileks menjawabnya. Sedikit demi sedikit awan hitam di atas kepalaku memudar dan pergi. Bahkan yang bikin aku terharu itu beberapa saudara aku ada yang mendoakan aku biar segera ketemu jodoh yang sholeh, baik, dan mapan. Ya aku aminkan saja. 

Tahu tidak sebenarnya apa yang aku takutkan semalam dan malah bikin aku stress sendiri itu adalah ulah aku sendiri? Ulah atas prasangka-prasangka jelekku dan malah bikin otak aku mikir yang aneh-aneh. Dan itu semua berawal dari scrolling social media. Beberapa content yang appear adalah cara menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh saat lebaran tiba. Lalu otakku salah respon dan akhirnya aku malah menciptakan rasa takut sendiri ketimbang mempersiapkan jawaban jika memang benar-benar akan ditanya hal yang tak diinginkan.

Terkadang kita terlalu khawatir dan takut atas hal yang belum terjadi. Padahal semua itu diluar kendali kita. Dan bahkan as I mentioned above belum tentu juga kan waktu kita masih ada untuk esok hari? Jadi kenapa mesti mengkhawatirkan esok hari yang belum tentu terjadi pada kita? Well, I mean iya kita harus punya rencana, harus. Memikirkan kemungkinan terburuknya bahkan iya harus biar kita punya rencana cadangan, tapi kalau terus terusan fokusnya di hal-hal buruk yang memang belum tentu terjadi justru akan membuat kita semakin down dan enggan untuk melakukannya karena udah takut duluan. Seperti aku yang udah takut duluan, jadi males kumpul keluarga, males ketemu keluarga. Faktanya apa? Mereka biasa-biasa aja kok. Gak nanya yang aneh-aneh. Bahkan mereka mendoakan kebaikan buat aku. 

"Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku akan membuat kebajikan sebanyak - banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Q.S Al-A'raf : 188)

Setingkat Rasulullah saja tidak bisa membawakan manfaat atau menolak mudarat dan juga tidak tahu perkara ghaib. Lantas kita sebagai umatnya? Astaghfirullah 😭 As a moslem also, kalau kita banyak takutnya atas hidup ini berarti kita gak percaya atas ketetapannya Allah. Sebagaimana yang tertuang dalam Q.S Al-Hadid ayat 22 bahwa segala sesuatu sudah dituliskan di lauhul mahfudz. Lantas mengapa kita harus memikirkan hal-hal yang memang diluar kuasa kita? Bukankah Allah itu Al-'Aliim, Maha Mengetahui? Maha Mengetahui mana yang baik dan buruk bagi kita? 

Dan fikiran-fikiran jelek itu berasal dari syetan. Agar kita senantiasa ragu akan ketetapan Allah, ragu atas kuasa Allah, ragu atas pertolongan Allah. 

Menulis ini adalah salah satu cara agar overthinking aku sedikit demi sedikit berkurang. Because writing is one of my ways to be able to talk deeply with my self. Bukan maksud menggurui tapi sedang mengingatkan diri. 

"Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat." (Q.S An-Naml: 62)

Love,
Ihat

Thursday, May 12, 2022

Rentang Kisah – Gita Savitri Devi

May 12, 2022 0 Comments
doc.pribadi

Before deciding to buy this book, aku sempet galau karena sebelumnya I had watched this movie. Iya udah tahu kan jalan ceritanya dari film pasti gak jauh beda dari bukunya kan? Gitu fikirku. Cuma akhirnya aku membeli juga buku ini karena aku yakin pasti ada kata-kata yang lebih nyentuh ke hati dari buku ini yang biasanya gak ada di film atau emang akunya aja yang gak fokus nonton sehingga bagian pentingnya ke skip. And after reading this book? Boom!

Buku Rentang Kisah ini sendiri berkisah tentang pengalamannya Kak Gita Savitri Devi dari mulai dia SMA, bingung mau kuliah kemana, jurusannya apa, kemudian tiba-tiba ditawari kuliah ke Jerman, bagaimana hidup di Jerman, dan juga kisah asmaranya hingga pertemuannya dia dengan Paul yang kini menjadi suaminya.

I particularly liked about this book because this book use simple words, easy to understand, to the to point, tidak terkesan menggurui, dan lebih ke membuat aku sebagai pembaca banyak introspeksi diri. Besides, the thing that I disliked from this book is the font size used is a bit too large. I would highly recommend this book to young adult, especially for the students in senior high school.

I give this book 5 stars.

Here some my favourite quotes from this book:

Kita belum tentu mendapatkan apa yang kita mau. Ketika itu terjadi, kita harus bisa menerima dan menghadapinya dengan bijaksana atau nggak akan pernah belajar tentang apa-apa dari hidup ini. – hal 51

Aku pun selalu bilang kepada diri sendiri untuk selalu percaya dengan apa pun yang Allah SWT kasih. Karena hal tersebut semata-mata hanyalah untuk kebaikanku sendiri. – hal 158  

Blurb

Apa tujuan hidupmu?

Kalau itu ditanyakan kepadaku saat remaja, aku pasti nggak bisa menjawabnya. Jangankan tujuan hidup, cara belajar yang benar saja aku enggak tahu. Setiap hari aku ke sekolah lebih suka bertemu teman-teman dan bermain kartu. Aku nggak tahu apa yang menjadi passion-ku. Aku sekedar menjalani apa yang ibu pilihkan untukku-termasuk melanjutkan kuliah di Jerman.

Tentu bukan keputusan mudah untuk hidup mandiri di negara baru. Selama 7 tahun tinggal di Jerman, banyak kendala aku alami; bahasa Jerman yang belum fasih membuat proses perkuliahan menjadi berat, hingga uang yang pas-pasan membuatku harus mengantur waktu antara kuliah dan kerja sambilan.

Semua proses yang sulit itu telah mengubahku; jadi mengenal diri sendiri, mengenal agamaku, dan memahami untuk apa aku ada di dunia. Buatku, kini hidup tak lagi sama, bukan hanya tentang aku, aku, dan aku. Tapi juga, tentang orangtua, orang lain, dan yang paling penting mensyukuri semua hal yang sudah Tuhan berikan.

The purpose to live a happy life is to always be grateful and don’t forget the magic words: ikhlas, ikhlas, ikhlas.

Thank You!

Ihat

Tuesday, May 03, 2022

I WANT TO DIE BUT I WANT TO EAT TTEOKPOKKO - BAEK SE HEE

May 03, 2022 0 Comments

 

doc.pribadi


Book identity
Judul: I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki
Penulis: Baek Se Hee
Penerjemah: Hyacinta Louisa
Bahasa: Indonesia
Penerbit: PT Haru Media Sejahtera
Catakan kedua puluh empat, Januari 2022
Hal: 236 Hal 
Genre: Self Improvement


Blurb
Aku:  Bagaimana caranya agar bisa mengubah pikiran bahwa saya ini standar dan biasa saja?
Psikiater: Memangnya hal itu merupakan masalah yang harus diperbaiki?
Aku: Iya, karena saya ingin mencintai diri saya sendiri
 
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah esai yang berisi tentang pertanyaan, penilaian, saran, nasihat, dan evaluasi diri yang bertujuan agar pembaca bisa menerima dan mencintai dirinya.
Buku self improvement  ini mendapatkan sambutan baik karena pembaca merasakan hal yang sama dengan kisah Baek Se Hee sehingga buku ini mendapatkan predikat bestseller di Korea Selatan.


This book tells us….
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki merupakan sebuah buku yang ditulis oleh Baek Se Hee, penulis asal Korea Selatan, yang menceritakan tentang catatan pengobatannya yang terjangkit distmia atau gangguan distimik (kondisi di mana penderitanya mengalami depresi ringan yang berkepanjangan dan terus-menerus). Hal 12.


What I particularly liked about this book…
Membaca buku ini sama seperti sedang membaca diary seseorang, mostly the content of this book is about conversation between the writer and her psychiatrist during the treatment process. Dari dialog-dialog inilah banyak sekali hal-hal yang bisa kita ambil. Diantaranya adalah bagaimana cara kita menerima dan mencintai diri kita sendiri. Besides, there are many her reflections after the conversations yang membuat aku sebagai pembaca jadi ikut merenung dan kembali berkaca pada diri sendiri. Isi bukunya juga tidak teoritis hanya berisi percakapan apa adanya berdasarkan pengalaman pasien dengan psikiaternya dan yang dibahasnya pun sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. (Started from less confident, overthinking, membandingkan hidup dengan orang lain, pekerjaan, and many so on. Please read this book!)

Dari segi cover, menarik. Font tulisannya juga bagus, enak untuk dibaca. Kemudian untuk hal-hal penting tulisannya dibold dan juga diberi highlight dengan warna merah. Ada pembatas bukunya juga, menghindari dari melipat-lipat kertas sebagai tanda batas baca.


What I disliked about this book…
Bahasanya kaku (contohnya: aku tidak tahu kenapa aku berbicara tajam seperti ini. Hal 136), baku dan ada beberapa istilah psikiatri yang tidak dijelaskan secara definisi.


The last…
I would highly recommend this book to new adult and adult, yang sedang bertahan dan memperjuangkan hidupnya to keep sane. Exactly, being an adult is not easy. By reading this book I think you can find the formula to face it.    
I give this book 5 starts.
 

Penyebab utamanya adalah karena anda terlalu mengkhawatirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Akibatnya, kepuasan terhadap diri anda sendiri pun menurun. Padahal, hidup anda adalah milik anda sendiri. Tubuh anda adalah milik anda dan andalah yang sepenuhnya bertanggung jawab atasnya. Hal 61

Hanya ada satu ‘aku’ di dunia. Dengan begitu aku adalah sesuatu yang amat special. Diriku adalah sesuatu yang harus aku jaga selamanya. Diriku adalah sesuatu yang harus kubantu secara dengan perlahan, kutuntun selangkah demi selangkah dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Diriku adalah sesuatu yang butuh istirahat sesaat sambil menarik nafas panjang atau terkadang butuh cambukan agar bisa bergerak ke depan. Aku percaya bahwa aku akan menjadi semakin bahagia jika aku sering melihat ke dalam diriku sendiri. Hal. 111

Sepertinya kehidupan adalah suatu proses pembelajaran untuk menerima hal-hal yang terjadi pada kita. Aku pun terpikir bahwa kemampuan untuk menerima dan pasrah bukanlah sesuatu yang bisa muncul hanya pada masa-masa tertentu dalam hidup saja. Kedua hal itu adalah suatu tugas yang harus dipelajari dan dilatih terus-menerus selama hidup. Aku harus belajar dan berusaha untuk menerima diriku apa adanya. Hal. 201

 

Thank You!