Wednesday, April 06, 2022

Membaca Kembali Isi Surat

April 06, 2022 0 Comments

 

Photo by Andrew Dunstan on Unsplash


Malam ini entah kenapa perasaan aku sendu. Entah mungkin rindu atau bagaimana yang jelas setelah melihat memori-memori beberapa tahun belakang. Tersenyum, tertawa, menitikkan air mata begitu satu persatu foto-foto itu muncul di layar laptop. Aku tahu waktu yang telah hilang tak akan pernah bisa kembali. Mungkin dengan seperti ini salah satu caranya agar bisa kembali mengingatnya. Mustahil kan untuk bisa kembali ke masa lalu dengan menggunakan mesin waktu seperti Nobita yang meminta bantuan kepada Doraemon?

Hal yang paling menyesakkan sampai saat ini adalah surat ucapan kelulusan atas wisudaku satu tahun yang lalu yang ditulis oleh anak-anaku, FULATION. Surat yang ku baca untuk pertama kalinya pada malam hari setelah siangnya acara wisuda dan saat itu perasaanku meledak. Aku menangis tersedu-sedu. Hinga barusan, saat aku tak sengaja menemukannya kemudian kembali membacanya rasanya masih sama; masih meneteskan air mata. Terima kasih sudah mau direpotkan dan diajak kerja sama. Aku gak tahu lagi harus berkata apa karena tak ada yang bisa menggantikan kalian.

Semoga urusan-urusan kalian dipermudah ya anak-anak. Mari sama-sama kembali lagi berjuang walau tak lagi bergandengan tangan. Mari sama-sama berdoa meski jarak yang memisahkan. Mohon maaf atas segala khilaf yang pernah dilakukan. Terima kasih untuk suratnya yang membuatku kembali percaya diri untuk terus berjuang!

Tonight let me share about the letter from my students.



Love,

Ihat

Monday, March 28, 2022

Begini Ya Rasanya Jadi Anak Kost

March 28, 2022 0 Comments

Foto oleh Jose Barrios dari Pexels


Bismillahirrahmanirrahiim

Actually this is so surprising for me karena bener-bener dadakan dan diluar rencana. Yang pada awalnya enam tahun sembilan bulan tinggal di asrama dan sekarang harus tinggal di kostan, sendirian lagi. Ya namanya juga tinggal di asrama dalam satu ruangan tentunya gak sendirian dong, ada banyak temen-temen lain yang sama tinggal dalam satu ruangan. Terbiasa berisik, makan bareng-bareng, kemudian pasti sering ngobrol dan sekarang harus berubah seratus delapan puluh derajat dengan kondisi kostan yang sendirian, sepi, dan apa-apa harus sendiri. Di awal-awal aku sering nangis dan pasti nelfon orang rumah atau teman-teman di asrama.

Specifically, the differences are:

1. Yang biasanya pulang piket ke asrama akan disambut dengan panggilan anak-anak atau ruangan yang ramai kali ini setiap pulang dari sekolah pas sampai kostsan suasananya hening. Paling-paling merebahkan diri di kasur sambil melihat langit-langit kamar yang masih bersih.

2. Dulu pas masih di asrama untuk urusan makan gak perlu repot mikir mau makan apa dan beli di mana karena sudah disediakan oleh dapur tiga kali sehari: pagi, siang dan malam. Tinggal ngambil aja ke dinning room. Sekarang? Hmm.. masak sendiri repot karena gak suka habis. Belanja sayurannya juga gak bisa dalam porsi sedikit. Beli ya gitu-gitu aja. Kalau mau paling pesan makanannya lewat aplikasi.

3. Kalau makan biasanya ada temen atau enggak kalaupun makannya sendiri masih ada yang bisa di ajak ngobrol. Sekarang setelah nge kost? Bener-bener hening. Cuma makan sendiri gak ada temen ngobrol, gak ada temen makan. Makannya kadang sekarang kalau lagi makan suka sambil main handphone atau enggak sambil dengerin radio. Karena sepi banget juga gak enak. Gimana gitu.

4. Kalau ada apa-apa ya mau gak mau harus dihadepi sendiri karena gak ada orang yang bisa diandalkan. Misal ketika ada kecoa. Ya mau gak mau harus menghadapinya sendiri. Ya kali nelfon mereka suruh dateng dari Tasik ke Bandung. Kan kelamaan😅.

5.  Kalau mau pergi kemana-mana pastikan isi kostan udah aman seperti lampu-lampu dalam keadaan mati, terminal listrik dicabut kalau gak dipakai. Jangan lupa dikunci. Kalau pas di asrama kalau mau pergi ya pergi karena di ruangan kan ada temen yang nungguin. 

6. Di sisi lain enaknya sih ya untuk belajar, untuk menulis suasananya hening jadi lebih fokus. Toilet cuma buat sendiri jadi gak perlu antri. Kalau di asrama kan ya pasti ba’daki ba’daki sebelum mandi. (Yang pernah mondok pasti faham maksudnya).

Terlepas apapun kondisi aku saat ini, I say thanks to Allah because He has permitted me to live alone in the kost with the new situation. And this situation teaches me everything include how to survive. Karena ini bener-bener keluar dari zona nyamannya aku. Yang biasanya selalu ada di sekitar aku, yang jaraknya dekat kayak mau ngambil uang ke ATM tinggal jalan ke depan gerbang langsung ada, mau beli bubur di pagi hari atau di malam hari tinggal jalan aja deket dan selalu ada. Mau beli air kelapa misalnya tinggal jalan kaki aja udah sampe. Sekarang? Mau ke ATM (yang sama ATMnya) need more effort. Jalan agak jauh atau enggak naik ojeg. Mau beli bubur ada sih tapi pagi aja kalau mau malam ya agak jauh juga tempatnya.

Tapi gak apa-apa. Alhamdulillah sekarang ya sudah mulai terbiasa dengan suasana baru ini. Enggak ada lagi males-malesan after shubuh karena kalau males-malesan dipastikan telat untuk sampai ke sekolah. Senin-Jum’at bener-bener full dan I must learn how to manage time well. Karena serba sendiri sebenarnya gak enak *kode keras 😂. Keuangan untuk urusan bayar sewa kost, makan, minum, keperluan pribadi mau tidak mau harus benar-benar diperhitungkan. Karena kan sebelumnya gak pernah tuh bayar sewa pas lagi di asrama, makan, minum free!  But once more, namanya juga hidup apapun itu yang terjadi hadapi dan jalani.


Love,

Ihat


Saturday, March 19, 2022

This Is Because His Plan!

March 19, 2022 0 Comments

 

Photo by Hanny Naibaho on Unsplash

Bismillahirrahmanirrahiim...

Akhir-akhir kemarin aku jarang post ya, mohon maaf karena memang minggu-minggu kemarin sibuk mengurusi perpindahan. Perpindahan apa? Tentunya pindahan kerja. Jadi dari awal bulan Maret kemarin aku sudah dinyatakan resign dari tempat kerja aku sebelumnya, asrama tercinta yang memang almost 6.5 years I spent my time to dedicate there. Lama banget ya? Aku aja yang ngejalaninnya ngerasa kayak baru aja kemarin melangkahkan kaki masuk ke Pesantren ini, starting when I was 18 years old. When I didn’t know everything to know everything. Time flies so fast.

Honestly, I have a plan for resigning here because I want to fight my dream. In my plan, I will leave this boarding at the end of this semester. Maybe around on June. So when I got the information about job vacancy and it was suitable for me, I tried it. My application was accepted twice in different place but there was one thing that didn't support thus I didn’t continue it. And then on November 2021, I got the new information from my friend who lives in Bandung and I tried it again. I didn’t expect more and thought if this place will make myself be better and close to Allah, I believe that Allah will place me there. But if this place just will make me far from Allah, I believe that Allah will never give me that.

I forgot about my application who was send. Up till December came, I received the message from the employer that my application was accepted! After that, I followed to interview and  the result was accepted. Then, I was tested for teaching (micro teaching) in front of the supervisor and also the students. Again and again, I didn’t expect more but the result… I was accepted! Lastly, psychological test (psikotes). And yaa I passed it! Ya Allah.. Astaghfirullah, innalillahi wa alhamdulillah when I received this message and then I sujud syukur. I cried because this was not on my plan. My friends were happy to hear it but they were also sad because I would leave this place sooner.

Once more, semuanya benar-benar jauh dari rencana dan melesat cepat. Bandung is a one of my dreams which comes to me when I’m turning 24 years old.  

To all my beloved friends,

Unni. Thanks to always listen my unek-unek 😅atau dengerin Taecyeon/ Lee Min Ho ganteng yang aku udah bilang beribu kali tanpa bosan. Yang suka dirurusuh buat cepetan mandi because you’re so hard to take a bath but the soonest kalau mandi. Yang emang bukan bener-bener bestie pas aku lagi tenggelam di kolam renang 😥. Well, thanks for your letter. I cried when I read it. Huhuuuu😭. Thanks for supporting me! Your letter will be pasted in my diary. Ehehhhh.

Ummi Iwin and Ustadz Opik thanks for always giving advice for me. Entah itu soal pekerjaan, jodoh  😁 or sometimes always made me jealous karena suka minta tolong fotoin berdua wkwkw. Makasih karena suka ngajak jalan-jalan. Pangandaran, Pameungpeuk, walau kadang akunya susah diajak main hehehehhhh.

Teh Tia. Temen sekasur dulu pas masih single. Temen ngobrol soal novel, drakor jaman dulu yang belum aku tonton, soal hafalan Al-Qur’an, ngaji, sekolah. Ah pokoknya apapun itu pasti suka diobrolkan hihiiii.

Wa Ichan. Mohon maaf yang suka dipinjem hpnya buat main games, yang suka ngajak jajan kalau piket bareng, atau enggak aku yang suka ngabisin makanan Wa Ichan heheehhhh. Yang suka nitip nasi telor Teh Tati 😂.

Tuti. Yang dari awal pendiam banget, terus sakit dianterin. Orang yang pertama kali suka dibangunin kalau tengah malem bangun. Kalau apa-apa aku suka minta dianter😅 atau kalau piket malem kalau aku lagi susah tidur dan dia lagi tidur suka diganggu biar dia gak tidur karena saking takutnya 😂mohon maaf ya.

Keke. Partner aku yang tegas ke adonya. Temen nyanyi di ruangan. Yang suka tidur paling akhir. Yang suka riweuh kalau ada panggilan dari luar negeri 😆yang sama-sama kalau ada kecoa ributnya ampun 😂 I will miss it when we were finding a cockroach. Pernah sampai rebutan naik kasur gegara si kecoa yang jalan-jalan ke sana- ke mari dan ngebangunin orang yang lagi tidur😆.

Arum. Yang suka cerita soal ke insecure-an bikin aku jadi ngerasa ada temen bahwa aku gak sendirian kok yang mikirin hal itu. Yang suka ngejajanin, yang pernah dibikin kesel karena insiden naik sepeda malem pas di Pangandaran. That’s unforgettable moment! Always make me laugh when I’m remembering it.

Dina. Yang sama-sama takut kecoa. Yang sama-sama penakut. Yang tengah malem pernah tiba-tiba duduk kayak hantu, atau tengah malem tiba-tiba teriak bikin aku bangun dan marah-marah 😅 yang pernah aku marahin di Pangandaram pas lagi snorkelling. I’m so sorry for that.😂

Tita. Yang apa-apa serius apalagi kalau udah nonton susah dipanggilnya. Yang sama-sama ingin punya dream catcher gegara nonton The Heirs. Yang kalau udah ngomong bahasa Sunda pasti bahasanya terdengar asing di telinga.

Silfi. Iprit! Wkwwk. Yang kalau  ngomong ada aja hal yang bikin kita ketawa. Yang suka Doraemon. Yang apa-apa kalau get problems larinya minta nikah.  Please yaa nikah bukan solusi atas masalah-masalah kita saat ini. 😅Yang suka naik gunung bahkan dia melabeli dirinya dengan sebutan anak gunung.

Teh Yunisa. Yang anaknya suka aku ambil tanpa bilang dulu ke emaknya. Abis itu aku biarin dan malah yang lain yang ngasuhnya 😂.

Teh Yuni. Kalau piket pasti bawa makanan. Yang jadi tumbal buat ngisi kelas 12 kalau lagi jamkos. Yang sama-sama pernah harap-harap cemas kalau hari Ahad tiba😂 .

Kiki. Yang baru masuk. Yang apa-apa diem gak banyak omel ini-itu. Paling nanya diam-diam 😂, yang rajin tahajud. Semoga Mamah cepet sehat ya.

Pak Iiq. Yang apa-apa pasti minta tolong heheee. Di mulai dari zaman jaga lab karena gak punya laptop jadi ya lumayan sambil nunggu sambil ikut search, ngerjain tugas. Ikutan ngeprint karena deadline. Yang suka ikut diririweuh karena anak-anak. Thanks a bunch Pak Iiq!   

Ustadz Heru. Terakhir kemaren yang ngeh dan nyadar kalau aku itu tenggelam. Thanks for saving me! Huhuuu. Yang suka julid kadang.

Teh Miftah. Yang bermutasi dari Murobbiyah menjadi Ustadzah terima kasih atas segala ilmu dan nasihatnya yang pernah diberikan. Yang sering ngasih traktiran jajanan hehee.

Ustdzah Eulis, Ustadz Budi terima kasih sudah mau membimbing, mengarahkan dan mengingatkan. Anak-anak asuh aku, Indirect terkhusus ruang 16, 17, 18, 19 & 1 terima kasih atas segala kenangannya. Suratnya yang bikin aku meleleh dan nangis.

Dan untuk seluruh warga Pesantren yang tak bisa aku sebutkan satu persatu. Jazakallohu khoiran katsiira. Terima kasih atas segala kebaikan-kebaikan dan juga kesempatan yang telah diberikan. And I never regret that I’ve ever met all of you in my life. I'm so grateful for our moments together!

Untuk segela rencana yang hanya bisa kita rencanakan. Maka sepenuhnya mari kita serahkan rencana kita pada Yang Maha Pemilik rencana terbesar se alam semesta, Allah SWT.  


Love,

Ihat

Sunday, March 13, 2022

Aku Takut Kecoa, Kamu ?

March 13, 2022 0 Comments

 

www.canva.com

Bismillahirrahmanirrahiim

Takut Kecoa? Ada yang sama?

Literally tadinya aku gak akan nulis ini. Cuma pas mau nulis kebelet pengen buang air kecil dan pas mau masuk ke kamar mandi, Astaghfirullah! Itu kecoa entah datang dari mana lagi mondar-mandir di belakang kloset bikin aku bergidik dan bingung harus diapain biar mati. Semprotan buat pembunuh serangga belum beli, padahal tadi pagi pas ditelfon Mamah bilang suruh beli. Biar pas dateng tuh si kecoa langsung semprot dan nanti juga mati sendiri jadi bisa langsung dibuang kecoanya. Because she knows that I'm so scared with cockroach.

Bingung harus diapain, teriak minta tolong tetangga ya kali mereka dari kemaren pintunya nutup terus dan keluar cuma kalau mau masak doang di dapur umum ( I wanna cry with this situation. I know it’s the first time for me so I’m not used with this 😭). Kebiasaan 6 tahun lebih di asrama kalau ada kecoa ya auto teriak, lari pontang-panting dari ujung ruangan ke ujung ruangan dan nanti giliran Unni sama Tuti yang beraksi. (Selain aku ada Keke sama Dina yang sama-sama takut kecoa jadi suka teriak berjama'ah dan berebut tempat yang aman. Kan jadi kangen kan karena takutnya bareng-bareng gak sendirian😭😆). Atau kalau lagi di rumah, pasti bakal teriak-teriak manggil, “Mamaahh… Mamaahhh…” “Bapakk… Bapakk…” habis itu Bapak akan bawa sapu buat mukul si kecoa atau Mamah dengan membawa semprotan pembunuh serangga.

And now? Mau gak mau aku harus beraksi sendiri. Bermodalkan cairan pembersih wc yang aku arahkan ke si kecoa malah bikin si kecoa lari terbirit-birit muterin isi kamar mandi😢. Udah puyeng kayaknya eh malah mau naik keluar dari kamar mandi. Panik lah! I immediately brought a broom dan aku pukul langsung si kecoanya eh si kecoanya malah mau terbang malah bikin aku ngejerit! Untungnya gak kenceng amet karena aku tahu nanti malah menimbulkan kepanikan bagi yang lain. Masa gegara kecoa heboh. Kan nanti gitu 😔. Ok. Masih dengan pegang sapu, si kecoa bener-bener keluar dari toilet dan lari ke pojokan deket botol gas kecil. Memaksakan diri untuk berani padahal sebenarnya takut setengah mati, aku mencoba buat neken si botol ke dinding dan alhasil si kecoa malah keluar mau lari ke arah aku tapi malah balik lagi ke belakang si botol. Duh udah pengen nangis! Mana di luar hujan lagi, petirnya nyamber gede! Aku tarik nafas coba buat sekali lagi meski dengan perasaan takut  sampai akhirnya aku mengulanginya hingga 3x. Dan di ketiga kalinya ini lah akhirnya si kecoa udah mulai gak berdaya dengan keadaan terbalik. Yes! Buru-buru aku seret pakai sapu meski dengan was-was dan pas aku buang ke luar ruangan nihil! Itu se kecoa entah lari ke mana. Lho bukannya tadi udah kebalik ya?

Aku cek lagi dan dia lari lagi ke pojokan itu! Arghh!!! Aku kembali lagi melakukan hal yang sama, memukul itu si kecoa hingga terbalik lalu aku seret hati-hati meski dengan hati yang super duper ketakutan dan taraaaaa dia akhirnya mati di teras kosan ku.

Kalau ditanya kenapa takut sama kecoa, ya takut. Asli TAKUT! Apalagi pas terbangnya iihhhh pokoknya. Aku yang biasanya selalu mengandalkan teman-teman, Mamah, Bapak, kini mau gak mau harus menghadapi rasa ketakutan itu sendirian. Gak enak sih. Tapi ya kali mau dibiarin aja itu kecoa berkeliaran di kamar mandi dan harus nahan pipis? Gak juga kan?

Punya pengalaman yang sama soal kecoa? Share with me here!

“Keadaan benar-benar membuatku harus menghadapi dan melawan rasa takut sendirian.”


Cheers,

Ihat

Saturday, March 12, 2022

Adalah Kamu

March 12, 2022 0 Comments

 

Photo by Toa Heftiba on Unsplash

Ada hal yang tak seharusnya aku mulai. Karena aku tak pernah tahu arus ini akan membawa aku ke mana. Meski diawal aku sudah menyadarinya bahwa ini akan berakhir bencana tapi perasaan yang datang terus saja menggedor pintu hatiku, minta aku membukanya, mengakuinya. Dan aku tak sanggup untuk menahan gedoran itu hingga aku mempersilahkan mereka masuk dan menempatkannya di sudut ruang hatiku yang masih tersisa.

Adalah kamu. Yang aku sendiri tak pernah menyangka akan terlibat urusan asmara. Kamu yang selama ini hanya aku anggap sebagai teman biasa lambat laun semua berubah termasuk sesuatu dalam hati kini selalu ingin ikut berbicara. Gayaku yang kaku begitu berjumpa denganmu, berbicara dengan nada datar dan selalu menghindar dari berbagai topik pembicaraan, komunikasi seperlunya adalah cara aku menyelamatkan diriku dari hal-hal yang nantinya hanya akan membuatku sakit berkepanjangan. Mungkin kamu akan mengira itu adalah caraku untuk memberikan radar padamu. Bukan. Bukan itu. Aku tak butuh perhatian darimu. Aku tak butuh kamu tahu atau tidak soal perasaaanku. Karena buat apa? Buat apa jika kamu hanya sekedar ingin tahu dan kamu akan tetap pergi bersamanya?

Tak ada yang salah dengan perasaan yang datang. Meski perasaan itu tak berpihak, patah sebelum dimulai, bertepuk sebelah tangan. Aku yakin akan ada suatu nasihat yang bisa aku ambil. Akan ada suatu  pengalaman baru untuk aku agar terus belajar menghindari kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi sebelumnya. Cinta tak pernah salah datang. Hanya waktu yang salah dan kamu adalah bukan orang yang tepat. Aku akan salah jika aku tetap mencoba mendekatimu, mengambil semua peluang yang ada, dan berusaha mematahkan kisahmu bersamanya. Tapi aku tak seegois itu. Aku tak sejahat itu.

Aku tak perlu melakukan hal bodoh untuk perkara cinta. Yang aku yakini adalah jika kamu orangnya maka kamu akan melepaskan pelukan yang lain dan berpaling padaku. Bukan begitu? Jika kamu masih berada dalam pelukannya dan enggan melepaskannya lantas mengapa aku harus melepaskanmu secara paksa dari pelukannya?

Sekalipun kenangan manis pernah tercipta, itu tak ada artinya di hidupmu bukan? Aku hanyalah cameo dalam hidupmu hingga akhirnya kamu akan cepat lupa terhadapku. Kamu akan lupa terhadap hari-hari yang pernah dilalui bersama.

Tolong jangan salahkan aku atas perasaan ini. Aku pun tak mengerti dan tak tahu dari manakah asal mulanya perasaaan ini hadir. Menyeruak dalam hati lantas meminta tempat untuk disinggahi. Meski kisahnya tak pernah benar-benar hidup dalam kenyataan, setidaknya pernah hidup di sudut hati yang lain meski harus ku padamkan juga pada akhirnya.

Menyakitkan bukan? Kembali mencintai orang yang salah. Mencintai orang yang jelas-jelas dari awal tak bisa kita miliki. Tapi aku bisa apa? Bukankah kita tak bisa memilih esok lusa akan jatuh pada hati siapa? Bertemu dengan siapa? Sekalipun dengan doa, bukankah ada taqdir yang sudah ditetapkan yang tak  bisa dirubah ketetapannya dan memaksa kita mau tidak mau untuk melaluinya?

Pada cinta yang hadir dan kamu yang singgah. Terima kasih atas hangatnya pertemuan, kisah-kisah yang menyenangkan dan juga mendebarkan. Aku sangat berterima kasih dan bersyukur. Karena tak ada alasan untuk aku membencimu meski dirimu tak bisa ku miliki seutuhnya. Kelak jika kau mengetahui kebenarannya, kuharap kau tak membenciku.


Love,

Ihat

Monday, February 14, 2022

Cerita Mamang Supir Ciamisan

February 14, 2022 0 Comments
Photo by Adismara Putri Pradiri on Unsplash


Bismillahirrahmaaniirahiim

Kemarin saya baru saja pergi ke kampus untuk mengambil Ijazah meski ya harus bolak-balik sana-sini buat minta surat-surat yang dibutuhkan untuk pengambilan Ijazah. Alhamdulillah gak sia-sia sih. Finally I got it. Sepulang dari kampus as usually I use a public transportation karena emang belum punya motor sendiri sih. Siang itu saat matahari sedang terik-teriknya panas saya memutuskan buat naik angkutan umum 01 nanti berhenti di halte Taman Lokasana habis itu dilanjut dengan menggunakan mobil Ciamisan, sejenis mobil angkutan umum jurusan Tasik-Ciamis dan saya menyebutnya mobil Ciamisan.

Alhamdulillah saya mendapati mobil Ciamisan yang penuh dan saya kebagian duduk di depan di samping Mamang sopirnya. Kalau mobil Ciamisannya penuh itu artinya mobil akan terus melaju dan gak akan ngetem. Ngetem itu artinya berhenti dibeberapa lokasi untuk menunggu penumpang naik. Nah pas di pertigaan jalan, mobil Ciamisan yang saya tumpangi itu malah berhenti padahal di depannya sudah ada mobil Ciamisan lain yang memang sedang ngetem, dikarenakan penumpangnya sedikit. Saya sempat mengerutkan kening, kok si Mangnya malah berhenti sih? Tak lama si Mang sopir Ciamisan yang saya tumpangi ini mobilnya, beliau itu malah turun dan menyebrangi jalan raya. Saya kira si Mamang supir mau setoran hasil nariknya hari ini eh ternyata beliau itu sedang membantu seorang ibu-ibu yang akan menyebrangi jalan dan hendak menaiki mobil Ciamisan. Begitu mereka berhasil menyebrang, si Mang supir mobil Ciamisan yang di depan malah teriak-teriaknya dari kursi pengemudi sambil bilang,

“Eta penumpang urang! Naha kalah ku maneh dicokot! Urang tatadi nungguan!” Kurang lebih artinya begini itu penumpang saya. Kenapa malah kamu yang ambil! Dari tadi saya nungguin!

Dan si Ibu itu juga malah membuka pintu mobil Ciamisan yang saya tumpangi. Mungkin karena tadi ya dibantuin nyebrang sama si Mangnya. Cuma sayangnya si Ibu gak jadi naik karena mobilnya penuh dan udah gak muat lagi si kursi penumpangnya. Si Mang supir mobil Ciamisan yang saya tumpangi beliau sudah masuk lagi ke dalam mobil kemudian menjalankan lagi mobilnya sambil berteriak ke supir Mang mobil Ciamisan yang tadi,

“Matakan boga suku teh pake. Lain cicing wae nungguan penumpang datang! Naon hesena turun pangmentaskeun!.” Makannya kalau punya kaki itu dipake. Bukannya diem aja nunggu penumpang datang! Apa susahnya bantuin nyebrangin orang!

Saya hanya diam menyaksikan kejadian itu. Hingga akhirnya saya menyimpulkan sendiri dari kejadian ini bahwa yang namanya rezeki memang seharusnya dijemput. Gak cuma diem aja nunggu bola datang, istilahnya begitu. Dari kasus si Mang itu bisa dilihat kan rezeki bisa segera diperoleh dengan menjemputnya? Meski ya si Ibu tadi gak jadi naik karena mobilnya ternyata udah penuh.

Menurut kalian gimana?


Love,

Ihat

Dulu vs Sekarang: Botol Minum & Kotak Makan

February 14, 2022 0 Comments
Photo by Mikhail Nilov from Pexels


Zaman saya pas Muallimien/SMA pengen punya botol minum aja susahnya minta ampun. Meski ada di lemari perabotan rumah, tapi botol minumnya itu udah jelek bahkan bocor. Jadi kalau dibawa ke sekolah harus pakai krresek biar gak rembes gitu airnya atau enggak dipegang soalnya kalau dimasukin ke tas udahlah tau-tau buku yang ada di dalam tas ikut kebasahan. Makannya dulu sekalian berangkat sekolah saya suka mampir dulu ke warung buat beli air minum kemasan botol. Habis itu botolnya gak saya buang, saya pake lagi sampai botolnya udah keliatan ledrek (kucel, jelek).

Sebenarnya ya malu juga sih kalau lagi kumpul istirahat, makan sama temen-temen saat yang lain bawa botol minum bermerek katakanlah Lion Star, Tupperware, wah nyali saya langsung ciut. Tapi ya mau gimana lagi saya cuma bisa mandang tempat minum tersebut sambil sesekali saya pegang.

Tidak hanya botol minum, kotak makan juga. Jadi dulu itu dari kelas X temen-temen saya rajin bawa bekal ke sekolah. Selain biar irit uang juga karena kebanyakan dari mereka tidak sempat sarapan di rumah jadi dibekal gitu makanannya. Hampir semua teman-teman saya memiliki kotak makan atau biasanya saya menyebutnya misting. Dan ya sama rata-rata bermerek gitu. Lantas saya sendiri? Saya juga di rumah ada kotak makan dan itupun sering rebutan dengan adik. Waktu itu di rumah cuma punya dua kotak makan, yang satu ukurannya kecil dan sudah jelek ya, yang satunya lagi lumayan besar tapi penutupnya gampang ngebuka. Pernah suatu ketika saya bekal nasi dengan lauknya itu tumis kentang bumbu kuning. Saya pakai kotak makanannya yang ukurannya agak besar dan tak lupa saya masukin ke kresek juga karena takut tumpah. Alhasil pas pelajaran pertama aroma bumbu kuning itu menyeruak begitu saya membuka tas untuk ambil buku dan yaa… Taraaa!!! Beberapa buku saya di dalam tas  kena bumbu kuning dari tumis kentang tersebut. Ternyata kreseknya bocor dan si nasi berserta kentangnya jatuh semua ke kresek. Setelah kejadian itu saya gak mau lagi pakai kotak makan itu dan memilih menggunakan bungkus nasi dan plastik untuk lauknya.

Lalu bagaimana sekarang?

Alhamdulillah wa syukurillah selain saya bisa beli sendiri botol minum dan juga kotak makan, beberapa tetangga ada yang suka ngasih ke rumah. Belum lagi beberapa orang tua anak asuh saya ada yang mengirimi saya kado berisi botol minum dan kotak makan. Sekarang Alhamdulillah kalau pergi kemana-mana bawa botol minum itu gak gampang bocor. Jadi meski disimpan di dalam tas dengan barang yang lain aman.

Nah makannya saya suka ngomel-ngomel kalau sedang mengontrol ruangan asrama anak-anak. Melihat botol minum dan kotak makan yang disimpan di mana saja membuat saya langsung bergegas mengumpulkannya disuatu tempat sambil ngomel-ngomel. Karena bagi saya itu berharga sekali. Saya pernah mengalami bagaimana susahnya untuk bisa memiliki alat makan dan minum tersebut.

Jadi buat kamu yang masih menyiakan-nyiakan suatu barang karena kamu anggap kamu mudah mendapatkannya coba renungkan. Diluaran sana banyak orang yang sangat sulit untuk bisa meraih apa yang sudah kamu miliki saat ini. Maka dari itu rawatlah, jangan disimpan di mana saja, kalaupun misal karena barangnya sudah banyak dan tidak terpakai lebih baik kamu berikan barang tersebut kepada orang yang membutuhkan.


Love,

De Ihat

Katamu

February 14, 2022 0 Comments
Photo by cottonbro from Pexels


Katamu
Aku adalah jari manis yang kelak akan kau sematkan cincin sebagai pengikat
Katamu
Aku adalah hal yang akan selalu ditunggu dan didoakan agar bisa bertemu di dunia nyata
Katamu
Aku adalah yang mau sama-sama menemani dan juga menanti

Dulu
Iya itu katamu
Dulu

Katamu 
Aku adalah hal yang telah yang lalu
Katamu
Aku adalah hal yang telah usang dan usai
Katamu
Aku adalah bukan sosok yang harus diperjuangkan lagi

Katamu
Kini
Dan itulah yang sebenar-benarnya

Hingga akhirnya aku menyesali apa katamu dulu
Karena katamu dulu adalah basi, mengingkari, sekaligus mengkhianati

Dari aku yang selalu merasa tertipu kamu dan waktu,

De Ihat

Monday, January 31, 2022

Please More Grateful Start Now!

January 31, 2022 0 Comments
Photo by Ann on Unsplash

Lately, I don't know why I feel like I'm upset, I'm terrible, worried about anything that I don't know what is, feel let down and sometimes feel like I lost direction. Honestly, this feelings affect on my daily activities. I'm not excited for facing my days, I'm lazy to start the days, and in my mind I just wanna run away from this situation. 

I know, I can't be like this for a long time. Thus, I try to ask my self first. Why am I like this? Ihat, do you have any problems? Do you wanna something that can't be said? I cry instead of looking the answer. I shake my head because I don't know and I'm confused with my own self. 

Lastly, I try to talk with Allah. What's going on with me Allah? Is that something wrong with me Allah? And slowly I'm starting to get the answer. Have I not been less grateful to Allah so far? Did I not really accept what Allah has given to me? And that question makes me feel calm, so I realize that my problem is I truly less grateful to Allah. 

Flashback to yesterday, without realizing I always compared my life with the others' life. Of course I knew about them from social media. When I saw my friends' status I felt I was envy. They got to continue their study especially in Master degree, they're getting married soon,  they have bornt baby, or they got the what fun a job. What they shared on social media looked more beautiful than my life. 

I was wondering with my self. Why is my life like this? I must work 24 hours in boarding school that sometimes makes me feel bored. I must save my money for my future because I cannot ask for it to my parents. And also, I asked to my self, why am I still single? Am I not enough pretty? 

My ego answered such as like I should get a job nine to five so I have a me time more. I should have started registering myself to continue my school. I should take a course. I should have a minimal fiance. 

Can you see that if I keep looking at other people's life, my life looks pathetic doesn't it? And after I found my problems I directly istighfar, with say "Astaghfirullah hal'adzziim". I shouldn't do this more. I should more grateful to Allah. Allah gave me what I need not I want. Comparing my life with other just made me tired, denying the blessings that Allah has given to me.😭 Whereas my sholat is not necessarily true, not necessarily khusyuk. Who am I who dares to deny His blessings? 

Astaghfirullah hal'adziim aladzi laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaiih.

It could be that my current life is the dream of many people out there or if I get what I want now,  I will be far away from Allah. Thus Allah take cares of me with blessing my life like what I have now. 

Start from today I must train my self to always grateful what Allah bless for me such as:

1. I say "alhamdulillah wa syukurillah" when I start the day.
2. Remember that your life now is a people's dream out there so no matter what happens please grateful it.
3. Stop to scroll social media if not necessary.
4. Reading the Al-Qur'an or a book that makes me more thankful to Allah SWT.

May Allah always guide us to His path. Aamiin


Love,


Sunday, January 23, 2022

Dikasih Waktu Buat Balik Lagi Ke Zaman SMA?!

January 23, 2022 0 Comments

Photo by THIS IS ZUN from Pexels


Bismillahirrahmanirrahiim

Mari berandai-andai…

The question is what did you do if you could turn back your time when you at Senior High School?

Hmm kalau dalam grammar ini termasuk dalam contoh conditional sentences type 2. Artinya impossible hihii. Tapi gak apa-apa sih, cuma mau lihat diri saya di masa lalu oleh saya yang sedang berada di masa kini.

Well, kata orang masa SMA itu adalah masa yang paling indah. Ya bisa dibilang gitu sih. Meski kenyatannya masa pahitnya juga dapet hahaa. Nah kalau emang dikasih kesempatan buat turn back ke masa itu maka jawabannya saya exactly, I would reset about everything that has happened. Hahaaa gak mungkin banget! Lol!

1. Belajar lebih dimaksimalkan

Seandainya saya bisa balik lagi ke bangku SMA tentu hal pertama yang ingin saya perbaiki adalah usaha saya dalam belajar. Meski iya dulu juga saya rajin belajar tapi rasanya kurang maksimal aja. Apalagi dipelajaran tertentu saya suka tidur. Ya Allah forgive me. Ngerasa dosa banget kalau inget ini sekarang. Ilmunya jadi gak dapet karena tidur di kelas atau enggak gak merhatiin guru atau paling oarah seolah-olah merhatiin tapi fikiran lagi melayang ke mana gitu. Kadang suka nyesel aja kenapa dulu gak mati-matian belajar kayak Kang Sol A di drakor Law School. Hehee. Tapi ya mau gimana lagi saya cuma bisa ceritain ini ke anak-anak asuh saya biar gak nyesel kayak saya atau ke adik saya.

2. Stop for loving someone who never love yourself

Ha! Ini memang kebodohan saya selama masa SMA. Uhh kalau aja bisa dikembalikan lagi waktu, saya mau langsung cabut perasaan saya itu dan lebih memilih untuk fokus mencintai diri saya sendiri. Saya sadar diri saya amat berharga dari pada perasaan bodoh itu. Tapi ya mau gimana lagi. Mungkin itu adalah salah satu fase kehidupan yang harus saya jalani. Meski menyakitkan pada saat itu, tapi saat ini kalau difikir-fikir lucu juga dan kadang bilang ke diri sendiri kok saya waktu itu mau ya dibego-begoin sama kelakuan dia? Tau gitu udah saya jauhin bahkan gak akan saya ladenin dari pada ujung-ujungnya cuma bikin saya jatuh sendirian.

3. Ambil kerja part time

Satu lagi yang saya sesalkan kenapa gak dari dulu saya mulai. Yap soal kerja! Meski pas zaman sekolah saya dulu saya suka berjualan dan di awal kelas 12 saya mulai mengajar kadang ya kalau liat dari kaca mata sekarang kenapa gak dimulai dari pas kelas X? Ya kerja apa kek yang emang bisa part time. Entah itu jadi kasir, penyiar radio, biar banyak pengalaman aja gitu. Tapi ya dulu gak mikir ke sana sih, Mikirnya cuma fokus buat sekolah aja belum ngerti duit. Heheee.

Semua yang saya tulis ini emang udah mustahil terjadi tapi setidaknya hal-hal yang menurut saya ini berharga sekali bisa saya sampaikan ke adik-adik saya, ke anak-anak asuh saya, atau mungkin ke anak saya sendiri nanti biar mereka bisa ambil hikmah dari pengalaman saya. Berharap mereka lebih baik dari saya dan enggak nyesel kayak saya sekarang. Saya yakin kok orang akan lebih tertarik untuk mendengarkan cerita apalagi ceritanya based on experience/true story ketimbang dinasehatin.

Cheers,



Kalau Lihat Ikan Lumba-Lumba Jadi Ingat...

January 23, 2022 0 Comments
Photo by Ádám Berkecz on Unsplash

Bismillahirrahmanirrahiim

Sore tadi ketika aku sedang memeriksa gambar hasil anak-anak, ada seorang anak yang menggambar seorang anak perempuan sedang dicium oleh ikan lumba-lumba. Aku tertegun dan cukup lama memandangi gambar itu di layar komputer. Aku tersenyum kecut mengingat aku tidak pernah ada diposisi si anak perempuan yang ada digambar ini.

Aku jadi inget masa TK aku. Let me tell you here.

Usiaku saat itu lima tahun. Anak TK yang kalau berangkat ke sekolah tuh gak pernah diantar. Jarak antara rumah dengan sekolah lumayan lah sekitar 650 meter pas aku cek sekarang pakai Google Maps. Jalan kaki sendiri atau bareng sama temen-temen yang lain tapi sih seringnya sendiri. Kalau zaman sekarang udah jarang ya anak TK jalan sendiri sekolah. Rata-rata diantar naik motor kan? Zaman aku dulu sih udah biasa anak ke sekolah sendiri. Jadi waktu itu sekolah aku ngadain semacam apa ya kayak main gitu lah atau kunjungan kali ya namanya? Ya pokoknya waktu itu diluar hari sekolah kalau gak salah, sekolah aku ngadain kunjungan buat nonton pertunjukan lumba-lumba tepatnya di acara festival kota. Sekolah ngasih pilihan antara orang tua boleh ikut tapi bayarnya double, atau yang gak ikut orang tuanya juga gak apa-apa karena semua guru ikut dan mendampingi juga. Orang tua aku pilih yang, ok kamu berangkat sendiri. Dan saat itu aku sebagai anak pertama yang gak punya pengalaman apa-apa (maksudnya pengalaman dari Kakak, iyalah namanya juga anak pertama) cuma ngangguk-ngangguk aja yang penting udah ikut aja asik kan nonton lumba-lumba.

Besoknya pas mau berangkat Mamah ngasih aku bekel makanan yang dimasukin ke kotak makanan. Aku lupa lagi makanannya apa yang jelas yang masih ingat makanan pasar lah ya dan juga uang Rp. 1000,-. Ini lebih gede dari uang jajanku yang biasanya cuma Rp. 500,-. Hanya saja Bapakku menegur Mamah kok ngasihnya cuma seribu dan Bapak ngambil uang aku yang seribu itu dan menggantinya dengan uang Rp. 5000,-. Waw! Lima ribu! Zaman dulu tahun 2003 duit lima ribu berharga banget! Bisa jajan sepuasnya! Ok. Aku dianterin dulu ke sekolah sebelum Bapak pergi ke bengkel, dibonceng naik sepeda. Sementara itu Mamah seperti biasa pergi ke rumah Ua buat bantu-bantu.

Sesampainya di depan sekolah, Bapak wanti-wanti sama aku soal uang, jangan hilang terus kalau bisa harus ada sisanya. Aku saat itu cuma iya iya aja, salim lalu berhamburan masuk kelas dengan perasaan bahagia. Namun begitu aku masuk kelas beberapa orang tua murid justru banyak yang ikut. Aku sih gak peduli banget ya waktu itu. Nah sebelum berangkat itu aku sama temen-temen jajan dulu di sekolah sampai akhirnya kembalian uang aku yang jumlahnya tiga ribu itu, aku langsung masukin aja ke kantong celana seragam aku. Dan tanpa aku sadari lagi itu kantong celananya ternyata dangkal banget. Dengan uang seribuan lembaran yang gak aku lipet rapih dan aku masukin langsung gitu ke aja ke kantong celana aku itu ternyata uangnya jatuh tepat di ambang pintu! Teman-teman aku yang lain pada ribut itu uang siapa yang jatuh. Aku yang liatnya masa bodo. Karena aku fikir  uang aku kan aman ada di kantong celana. Dan pada saat itu parahnya lagi aku gak ngecek uang aku masih ada apa enggak.

Berangkatlah kita ke festival kota itu naik kereta odong-odong. Sesampainya di sana tentu kita jalan ya, mengitari festival itu sendiri. Agak siangan kayaknya ketika sampai di acara pertunjukan lumba-lumba itu. aku buru-buru membuka bekal yang tadi disiapkan mamah dan memakannya begitu sampai di sana. Air minum pun aku cuma bawa sedikit. Ternyata acara lumba-lumba itu cukup lama lah ya (mungkin karena aku masih kecil waktu itu). nah pas diakhir acara si penjaganya bilang yang mau diphoto sama lumba-lumbanya bisa mendaftar terlebih dahulu dengan membayar Rp. 20.000,- Aku buru-buru merogoh isi saku celanaku dan aku langsung panik begitu ternyata isi saku celanaku kosong! Aku teringat uang yang tadi jatuh diambangppintu kelas. Jangan-jangan tadi  itu uang aku yang jatuh? Sementara itu teman-teman aku yang membawa uang lebih  udah ikut mendaftar, apalagi yang ikut bersama orang tuanya. Aku cuma menatap mereka dengan tatapan nanar kalau harus aku expresikan sekarang. Cuma waktu itu karena aku gak ngerti sama emosi yang aku rasakan saat itu, saat liat mereka antri buat diphoto rasanya kok sakit ya. Kenapa Mamah aku gak ikut juga sama aku di sini? Padahal pengen banget diphoto sambil dicium lumba-lumba.

Beberapa temanku yang sudah mendapatkan cetakan photonya langsung lonjak-lonjak bahagia sambil memamerkan cetakan photonya itu kepadanya ibunya, sementara aku yang masih duduk di kursi penonton cuma bisa nonton sambil kefikiran uang itu ilang ke mana

Hari semakin siang dan perut aku juga udah mulai keroncongan. Selain itu aku pun kehausan. Aku menahan lapar dan haus sejak menonton pertunjukkan lumba-lumba tadi. Dan setelah menonton pertunjukkan lumba-lumba itu acara dilanjutkan dengan belanja. Jadi bagi anak-anak yang mau belanja silahkan, apalagi yang sama orang tuanya. Aku saat itu karena sendirian gak tahu harus pergi kemana. Aku cuma membuntuti rombongan sambil menahan rasa lapar dan haus. Sementara itu fikiranku kembali pada uang yang hilang itu karena takut nanti kalau pulang ke rumah dan ditanyai Bapak terus aku jawab hilang Bapak pasti akan marah besar. Sepanjang jalan udahlah panas, pusing karena aku berjalan dikelilingi oleh orang-orang dewasa yang emang tinggi-tinggi ya jadi pusing gitu. Sambil megang perut karena lapar dan saat itu aku gak menemukan guru aku. Guru aku entah pergi ke mana. Saat itu yang ada difikiranku cuma pengen buru-buru naik kereta odong-odong dan sampai sekolah habis itu pulang.

Begitu sampai sekolah aku pulang sendirian. Tidak dijemput dan harus berjalan kaki menuju rumah. Sementara itu uang kan udah gak punya, minum juga udah habis. Aku berjalan sendiri menuju rumah sambil menahan rasa haus dan lapar. Belum lagi panasnya terik matahari. Sekitar 10-15 menit aku baru bisa sampai rumah. Waktu itu yang aku ingat begitu sampai rumah, Mamah udah pulang dari rumah Ua karena memang jamnya untuk sholat dzuhur. Nah sesampainya di rumah itu aku langsung ganti baju , mengambil air minum, makan, sholat, habis itu ya pergi tidur. Mamah aku gak bilang apapun dan aku juga tidak mengatakan apapun karena aku lelah dan aku takut kalau aku bilang aku haus dan lapar selama di sana terus mereka jawab kan dikasih uang lebih terus aku jawab uangnya hilang, mereka akan memarahiku. Nah waktu itu Bapak aku juga udah pulang dari bengkel terus Bapak nanya uangnya nyisa atau enggak ya aku jawab uangnya habis soalnya aku haus. Padahal yang terjadi sebenarnya uangnya hilang dan aku kehausan selama di festival itu.

Aku gak berani cerita ini ke mereka sampai akhirnya kisah aku ini kembali terulang ke adek aku.

Pas aku lagi di asrama, Mamah nelfon aku bilang katanya adek aku ada acara renang di sekolah dan orang tua boleh ikut atau enggak (kondisi sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Mamah dulu dingin dan cuek beda dengan sekarang. Dan aku lebih dekat sekarang dengan Mamah termasuk dengan Bapak.) otomatis aku langsung ngambek dong begitu Mamah bilang Mamah gak akan ikut karena jualan. Aku bilang Mamah harus ikut, kalau soal biaya biar aku yang bayar. Aku kembali teringat kejadian aku dulu dan aku gak mau kejadian itu terulang lagi ke ade aku. Tapi takdir berkata lain…

Begitu aku pulang ke rumah karena di asrama sedang gak ada jadwal, Bapak cerita sama aku kalau Mamah aku ternyata gak ikut ke acara renangnya ade aku karena gurunya bilang kalaupun orang tua gak ikut tetap ada guru yang memantau. Ah bullshit! Dalam hati aku.  Alhasil adek aku sendirian ke sana dan saat itu tetangga aku yang ikut ke acara renang itu ngomel-ngomel ke Bapak aku lantaran adek aku kasian banget gak ada yang ngurusin, bajunya basah, dll. Bapak aku langsung pergi ke skeolah buat jemput adek aku. Dan Bapak gak tega banget liat kondisi ade aku yang iya cuma liat sana-sini sambil bengong. Aku cuma nelen ludah aja karena gak tahan aku juga punya pengalaman yang sama dulu.

Dan pengalaman aku itu baru aku sampaikan kebenarannya ke mereka pas aku usia 22 tahun. Mamah aku cuma diam dan terlihat ngerasa berasalah banget sampai kalau tiap kita ngumpul dan ngomongin soal itu Mamah tuh langsung menitikan air mata dan suka minta buat berhenti cerita tentang itu. Aku sadar kok dengan sifat Mamah yang mudah percaya sama omongan orang.

Makannya kalau pergi ke festival bayang-bayang aku kecil dulu tuh suka tiba-tiba datang aja. Atau enggak iya kalau liat gambar lumba-lumba. Langsung keingetan momen itu. Dan sebelumnya aku pernah cerita soal ini ke teman-teman aku, sayangnya dari mereka cuma bilang, itu sih biasa aja. Atau enggak, lebai cerita gitu doang nangis. Semenjak saat itu aku tak ingin lagi berbagi kisahku yang memang menurutku sangat menyedihkan pada orang lain. Cukup ditulis di sini saja. Karena dengan menulis aku bisa bebas menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan dan apa yang aku rasakan.

Dari pengalaman aku ini aku cuma mau nulis poin-poinnya aja buat bekal nanti kalau aku udah nikah dan punya anak:

  1. As a mother ternyata harus serba tahu segalanya, meski kamu tidak mengalaminya dulu di masa kamu kecil atau karena baru punya anak, kamu bisa bertanya kepada orang lain atau rajin baca.
  2. Kalau ada acara di sekolah terus kalau orang tua sekiranya boleh ikut dan anak masih kecil lebih baik ikut.
  3. Sebagai orang tua ternyata jangan langsung menyalahkan si anak kalau si anak berbuat salah. Kasusku kan begitu karena sebelumnya-sebelumnya orang tua aku, terutama Bapak yang suka marah dan ngasih hukuman kalau aku salah maka di kasus ini aku memilih berbohong dari pada harus dimarahi dan mendapat hukuman.
  4. Sebagai guru kalau mengadakan acara seperti ini harus extra perhatian pada murid yang tidak didampingi oleh orang tuanya.
  5. Suatu saat nanti jika aku menjadi seorang Ibu, aku ingin lebih perhatian pada anak aku. Aku ingin anak aku kelak bisa mencurahkan segala isi hatinya tanpa menyalahkan dan juga menggurui.

Tapi soal lumba-lumba ternyata gak sampai di situ. Lumba-lumba juga mengingatkan aku pada seseorang yang selama ini selalu aku harapkan ternyata dia meminang orang lain di saat ribuan pertanyaan untuk dia belum aku sampaikan.

Ya udah sih mau gimana lagi. Setiap tanya kadang gak butuh jawaban cuma butuh penerimaan aja. Bener gak?

Love,