Friday, October 29, 2021

Belajar Dari Episode 15 Hometown Cha Cha Cha

October 29, 2021 0 Comments
Instagram tvn_drama

Bismillahirrahmanirrahiim

Siapa di sini yang sudah marathon drama korea Hometown Cha Cha Cha? Terlepas dari skandal yang sedang menimpa Kim Soen Ho (semoga segera selesai dan menemui titik terangnya ya, aamiin) drakor ini menurutku bagus dan sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja. Dari setiap episode selalu ada hal yang bisa dijadikan pelajaran. Aku sendiri baru nonton sampai episode 15 dan masih stuck di episode ini. Episode yang mengundang banjir air mata. Karena di episode ini terkuak sudah masa lalu Hong Du Sik yang selama ini disimpannya rapat-rapat.


Instagram tvn_drama

Masa lalunya ini terbongkar saat Kim Do Ha, asisten sutradara Ji Seong Hyun yang bertanya kepada Hong Du Sik tentang pekerjaannya dulu dan apakah mengenal ayahnya atau tidak. Pukulanpun dilayangkan tepat kepada Hong Du Sik membuat seluruh warga Gonjing kaget melihatnya. Dari sanalah Hong Du Sik mulai menceritakan masa lalunya itu kepada kekasihnya, Yoo Hye Jin. Kisahnya itu dimulai saat ia kuliah di Seoul dulu bertemu dengan Sunbae yang baik bernama Park Jung Woo yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri. Kemudian bekerja bersama di sebuah perusahaan hingga sebuah insiden tabrakan mobil yang merenggut nyawa Park Jung Woo. Istrinya saat itu malah menyalahkan Hong Du Sik atas kematian suaminya dan istrinya sampai bilang bahwa yang seharusnya mati adalah Hong Du Sik bukan suaminya. Di sini Hong Du Sik sangat merasa bersalah. Selain itu, Hong Du Sik juga dituding sebagai penyebab kelumpuhan yang menimpa ayahnya Kim Do Ha. Padahal kalau ditonton sampai akhir menurutku bukan kesalahan Hong Du Sik sih cuma orang-orangnya aja yang tidak siap menerima musibah sehingga menyalahkan orang lain, dalam drama ini mereka menyalahkan Hong Du Sik atas segala insiden yang terjadi.

Musibah Dalam Islam

Dalam Islam musibah yang terjadi kepada kita tidak lain dan tidak bukan karena disebabkan oleh diri kita sendiri, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S As-Syura ayat 30:

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Selain itu Allah juga berfirman di surat lain, Q.S An-Nisa ayat 79:

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu itu dari (kesalahan) dirimu sendiri…”

Lantas bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim jika mendapatkan musibah? Tentunya berdasarkan kedua ayat tersebut kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas musibah yang menimpa diri kita sendiri artinya kita harus introspeksi diri. Selain itu sebagai seorang muslim kita harus yakin bahwa segala sesuatu itu berasal dari Allah dan akan kembali lagi kepada Allah, maka ketika mendapatkan musibah yang pertama kali diucapkan adalah kalimat Istirja, yaitu Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un.

“(yaitu) orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.Al-Baqarah 156-157).

Pengalaman Pribadi

Sebenarnya sih misal kalau ada diposisi Kepala Hong tentu aku juga pasti merasa bersalah. Aku sendiri pernah mengalami hal seperti itu tiga tahun yang lalu saat anak asuh aku mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal ditempat. Sempat merasa bersalah karena mengapa mengizinkan dia buat pulang meski saat kejadian Bapaknya tiba-tiba datang buat jemput dan tidak ada konfirmasi sebelumnya. Saat aku ta’ziyah waktu itu aku nangis dipelukan Ibunya sambil bilang mungkin musibah ini terjadi karena aku yang mengizinkan. Si Ibu dengan besar hati malah menenangkan aku bahwa dalam hal ini tidak ada yang perlu disalahkan semuanya sudah ketentuan Allah dan mungkin sudah jalannya bagi anaknya untuk kembali kepada Allah. Aku terdiam mendengarkan ucapan Ibunya itu. Begitu tegar hati si ibu menerima dan melepaskan anaknya untuk pergi selama-lamanya.

Tak hanya sampai disitu, hari-hari selanjutnya aku sering mengeluh dan berandai-andai jika saja hari itu Bapaknya tidak datang untuk menjemput dan aku tidak memberikan izin pulang mungkin musibah itu tidak akan terjadi. Bapak aku yang mendengarnya langsung marah dan mengingatkan aku bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah di Lauhul Mahfudz dan urusan nyawa seseorang tidak ada yang bisa mencegahnya.

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.” ( Q.S Al-Hadid 22)

“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…”(Q.S Ali Imran: 144)

Dari tulisan ini aku mengambil beberapa poin untuk dijadikan pelajaran:

  1. Mengucapkan kalimat Istirja begitu kita mendapati musibah
  2. Saat mendapatkan musibah jangan sibuk menyalahkan orang lain tapi lihat ke diri sendiri, introspeksi. Karena menyalahkan orang lain tidak akan bisa mengembalikan apa yang telah terjadi/hilang.
  3. Yakin bahwa segala sesuatu sudah diatur dan ditulis oleh Allah di Lauhul Mahfudz.
  4. Tidak bereaksi berlebih saat mendapatkan kesenangan/kesulitan. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Hadid ayat 23:
    “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”
  5. Terakhir, yakinkan diri sesuai firman Allah bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan (Q.S Al-Insyirah 5-6).

Always keep spirited,

Tuesday, October 26, 2021

Bolak-Balik Rumah Sakit

October 26, 2021 0 Comments
Photo by Erkan Utu from Pexels

Bismillahirrahmaanirrahiim

Before I tell you about my story, I would like to say thank you so much for your pray because my doctor said to me that my right kidney is getting better and for the next month I have to drink water a lot, at least 3 liters a day and followed by a healthy lifestyle. Alhamdulillah. All praises be to Allah.

Almost in three weeks, I have been back and forth to the hospital absolutely for checking my disease dan setiap ke rumah sakit itu I always got a new something which made me thankful to Allah SWT. Betapa kesehatan itu adalah sebuah hal yang sangat mahal harganya when you are sick. Ketika orang-orang lalu lalang di lorong dengan infusan yang terpasang di tangan, belum lagi ada juga yang harus duduk di kursi roda didorong oleh perawat, atau yang tergeletak lemah di atas brankar rumah sakit didorong oleh beberapa orang menuju tempat pemeriksaan misal atau harus pindah ruangan. Ya Allah, pokoknya selama lalu lalang itu aku berdoa dalam hati semoga aku dijauhkan dari penyakit-penyakit yang parah seperti itu dan semoga mereka yang sakit segera disembuhkan agar bisa beraktifitas seperti biasa. 

Selain bikin aku banyak berdoa dan bersyukur saat menunggu pemeriksaan, bolak-balik ke rumah sakit juga sempat membuat aku stress dan frustasi karena ternyata penyakit yang aku derita ini dialami oleh beberapa orang dan rata-rata kasusnya udah parah. Beberapa orang bahkan sudah dipasang kateter urine. Mereka berjalan sambil membawa kantong urine membuat aku terus berdoa dalam hati agar keadaanku tidak harus demikian. Kemarin saja sempat bertemu dengan seorang Ibu-ibu yang memiliki penyakit yang sama denganku hanya saja kondisinya sudah parah, mengharuskan beliau untuk di laser dan terakhir adalah di operasi. Entah bagaimana cerita si Ibu tersebut membuat aku nangis dan ketakutan. Hanya saja beliau berpesan,

“Pokoknya Neng, Ibu mah yakin aja sama Allah bahwa Ibu akan sembuh. Laa haula walaa kuwwata illa billah. Itu yang selalu Ibu ucap. Dan Alhamdulillah sekarang Ibu udah sehat. Neng habis ini harus jaga kesehatan apalagi makanan. Udah gak boleh lagi makan jeroan, kulit-kulit, kopi, minuman bersoda. Daging sapi pun boleh asal jangan sering. Baiknya sih ulah.”

Aku pun hanya mengangguk sambil mendengarkan sementara hati terus berdoa semoga ketika nanti dipanggil dokter akan mengatakan hal-hal yang baik padaku bukan malah memperburuk keadaan. Percakapan itu selesai karena si Ibu ingin buang air kecil. Akupun langsung mengambil handphone dari dalam tas kemudian mengirim pesan kepada temanku, minta doanya agar hasilnya membaik dan dijauhkan dari segala macam tindakan apalagi operasi. 

Unn masuk rumah sakit malah tambah stress :'((( doain aku Unn semoga hasilnya baik

Sambil ngetik sambil nangis juga. Dikasih cerita gituan iyalah bikin aku nge-drop.

Iya rumah sakit itu tempatnya kita banyak bersyukur. Enggaklah. Insya allah. Yaaqiinnn…

Aku termenung setelah membaca pesan dari temanku itu. Iya ya saat kondisi seperti ini tentu yang diminta sama Allah pasti sehat gak ada yang lain. Karena kesehatan itu gak bisa tergantikan dengan apapun. Dengan tubuh kita yang sehat kita bisa kerja, sekolah, olahraga, main-sana sini, kemudian mau makan apapun juga bebas gak ada pantangannya.

Tak lama kemudian aku pun dipanggil dokter dan Alhamdulillahnya kondisiku membaik hanya saja masih harus minum obat dan minum air putih yang banyak juga tentunya.

Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obatnya sesuai dengan penyakitnya, maka akan sembuh penyakit itu dengan izin Allah ‘azza wajalla. (H.R. Muslim)


May Allah always give us health,

Sumber hadits:

https://tarbiyah.net/semua-penyakit-ada-obatnya/

Wednesday, October 20, 2021

Sehat Itu Mahal!

October 20, 2021 0 Comments
www.pixabay.com

Bismillahrirrahmanirrahiim

Gak pernah nyangka sih kalau rasa sakit yang selama ini dibiarkan ternyata lama-lama malah jadi parah. Awalnya iya gitu saat kondisi badan udah capek, ngantuk yang harusnya obatnya itu adalah istirahat dan mengesampingkan kerjaan ini malah terus-terusan diforsir. Pengen badan tetep fit dan biar rasa kantuknya hilang larinya malah minum kopi dan makan makanan pedas bukannya makan nasi, semisal kemarin-kemarin malah sering banget beli Cilok goreng pakai bumbu cabai, bakso dengan kuah pedas, Cilok goang juga. Minum kopi Good Day Vanilla Latte yang awalnya cuma pagi doang naik dosis dong pagi sama sore, karena tubuh masih aja ngerasa gak seger dan rasa kantuk tetep aja nyerang move lah ke kopi Americano. Actually, this is my first time I bought Americano in Coffee Shop, usually I ordered Vanilla Latte. Because it tastes sweet, I tried another coffee which didn’t content milk and sugar so last time I tried Hot Americano. That was truly what else? This coffee it tasted sour, bitter, and bland for me yah but made me fresh and my sleepiness disappeared. I thought my problem was solved but it didn’t and it made the situation worse.

After that, perut aku sebelah kanan sampe pinggang kanannya kerasa sakit banget. Panggul yang sebelah kanan juga kerasa panas gitu. Cuma waktu itu sakit di area pinggang masih hilang timbul. Sering mual bahkan sempet beberapa kali muntah. Periksa lah ke dokter ternyata sakit Maag. Habis obat tuh udah agak mendingan tapi besok-besoknya kerasa lagi si sakitnya bahkan sakitnya udah bukan hilang timbul lagi, frekuensinya makin sering timbul. Periksa ke dokter lain dan aku didiagnosa sakit Infeksi Saluran Air Kencing. Diceramahilah lah aku sama si dokter gegara kurang minum. Habis itu ya back to my boarding and do activity as usually sembari diminum tuh obat sama banyakin minum. Anehnya itu masih aja kerasa sakit dan si mualnya ini justru malah sering terjadi. Ditambah sakit kepala, tidur gak nyenyak karena gak bisa menghadap ke kanan soalnya sakit banget si pinggang kanan. Liat di cermin wajah udah pias gitu kayak mayat hidup, tapi aku support diri aku mungkin cuma perasaan aku aja kali everything is gonna be allrigth bentar lagi juga sembuh. Gak lama pas sore, Mamahku video call dan malah bilang kok mukaku kayak mayat, pucat gitu. Besoknya entah gimana aku bener-bener ngerasain yang namanya sakit gak ketahan. Pusing, mual, sakit perut kanan atas, pinggang kanan iya kayak ditusuk-tusuk jarum gitu akhirnya aku memutuskan buat periksa lagi ke dokter diantar Bapak dan dokter aku itu jadi bingung lantaran perut kanan atas aku sakit banget jadi diagnosa ke tiga kalinya ini aku dinyatakan dikhawatirkan ada gejala batu empedu. Ngeng! Kaget lah. Harus di USG biar jelas sakitnya apa dokternya bilang begitu. Beberapa hari kemudian karena ternyata gak ada perubahan aku berobat ke Puskesmas buat minta rujukan ke Rumah Sakit. Dapetlah rujukan itu dan aku dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam dengan diagnosa batu empedu. Sesampainya di dokter spesialis penyakit dalam, dokter mendiagnosa aku kalau aku iya ada sakit Maagnya cuma yang sakit di perut kanannya harus di USG takutnya Liver. Astaghfirullah. Pengen nangislah aku di sana cuma aku mikirnya ini kan kata dokter masih ‘ditakutkan’ dan belum tentu nanti hasil USG nya begitu. Diperiksalah aku di USG Abdomen, jenis USG untuk mendeteksi mendiagnosis penyakit seperti batu empedu, batu ginjal, aneurisma serta abdominalis, neoplasma hepar, dan karsinoma pankreas (www.alomedika.com). Dokter yang di USG nya itu cuma bilang katanya aku harus banyak minum, udah gitu aja. Aku fikir oh mungkin sakit aku gak parah-parah amat syukurlah bukan Liver atau Batu Empedu. Eh, keesokan harinya saat hasil USG nya diserahkan ke dokter spesilais penyakit dalam ternyata ada pembengkakan di ginjal kanan (bahasa kedokterannya Hidronefrosis bisa googling aja sendiri ya! Karena emang bener-bener gak bisa dianggap sepele dan bisa bikin fatal kalau dibiarin). Kaget bener lah di sana udah kayak disambar petir denger kabar itu. Karena si batu ginjalnya gak kedeteksi dari hasil USG nya jadi dari Poli Dalam ini aku dirujuk ke Poli Bedah Urologi buat memastikan parah enggaknya. Aku bener-bener pengen nangis tapi malu ditambah bingung karena gak tau di sebelah mana Poli Bedah Urologi ini. Sempet muter-muter di dalam Rumah Sakit dengan fikiran yang kacau dan takut sampai akhirnya ada orang yang mau nunjukin jalannya bener. Saat itu aku periksa sendiri ke rumah sakit karena orang rumah sibuk. Sampailah aku di bagian Poli Bedah Urologi. Sambil nangis terisak tertahan aku kabari Mamah aku soal penyakit aku, si Mamah buru-buru nyuruh Bapak yang lagi belanja di Pasar buat jemput aku di rumah sakit. Lumayan lama nunggu dokternya sampai akhirnya pas giliran aku diperiksa dokter yang di Urologi itu bilang kalau penyakit aku kali ini dikategorikan masih ringan jadi belum ditindak (semoga aja jangan dan enggak aamiin) dan cuma dikasih obat. Selain itu dokternya pun nyuruh aku buat minum air putih yang banyak, 3 liter perhari. Jangan minum yang aneh-aneh cukup minum air putih aja.

Dari kasus aku di atas, I highlighted some points:

  1. Kalau udah kerasa capek banget please take a rest for while. Gak usah maksain kerja dulu. Dari pada bikin badan drop dan jadi lama sakitnya kayak aku. Taking a rest kan bisa sehari atau dua hari lah ya. Menurutku itu udah cukup dan bisa bikin badan kembali seger. Cuma emang bener-bener harus istirahat bukan malah dipakai aktifitas lain yang bikin badan jadi capek.
  2. Selain taking a rest, your body also need nutritional foods. Jangan kayak aku larinya malah ke minum kopi gak pake aturan dan makan makanan pedes.
  3. Minum air putih yang banyak minimal 2 liter sehari WAJIB! Jangan kayak aku ya huhuuuu udah parah aja baru.
  4. Kelola stress dengan baik. Yang aku dapatkan hikmahnya dari sakit aku kali ini namanya kerjaan jangan difikirin tapi dikerjain kalau udah dikerjain ya udah gak usah cemas dengan hasilnya, toh soal hasil kan bukan urusan kita itu mah urusan Allah. Biar Allah yang atur sisanya. Kemaren-kemaren iya gitu banyak khawatirnya, khawatir dengan hal-hal yang belum tentu terjadi. Selain itu hal sepele selalu diambil pusing. 🙁
  5. Jangan males olahraga. Iya jujur olahraga adalah hal yang paling malas buat dilakukan. Padahal sebenarnya kalau udah olahraga meski itu cuma senam lantai ngikutin yang di YouTube selama 15 menit itu bikin fikiran jernih dan stress bisa hilang. Dasar males akunya aja lebih gede daripada kesadarannya padahal manfaatnya udah dirasain sendiri.

Lastly please pray for me ya. Next week I have to see the doctor for checking-up. Hopefully the result is good and just followed by healthy lifestyle. Aamiin.

Love,

Saturday, October 02, 2021

To Be A Career Woman?

October 02, 2021 0 Comments

Photo by Christin Hume on Unsplash

Bismillahirrahmanirrahiim

Pagi itu aku putuskan untuk langsung mandi sehabis bubar dari masjid karena akan ada orang tua santri yang menjemput anaknya lantaran ada acara wisuda di sekolah sebelumnya. Masih pagi dan mentari baru bersinar, orang tua santri tersebut benar menempati janjinya dan sudah sampai di gerbang depan utama tepat pukul tujuh pagi. Sebelum pulang itu, anaknya izin pamit sebentar sama teman-temannya. Sambil menunggu si anak pamitan, si ibu bertanya,

“Ukhti gimana anak saya di sini? Dia baik-baik aja kan?”

Alhamdulillah baik ibu. Dia di sini ceria, mudah bergaul sama temen-temennya.”

“Syukurlah kalau gitu. Tapi bener kan dia baik-baik aja?” Si ibu mengulang pertanyaan yang sama, sepertinya si ibu belum puas dengan jawabanku barusan.

“Baik kok bu. Enggak gimana-gimana.”

“Enggak nyari perhatian lebih kan sama Ukhti?”

Aku mengernyitkan dahi. “Perhatian lebih ibu?”

“Iya Ibu cerita dikit ya. Jadi waktu itu dia di sekolahnya pas SD sering nyari perhatian-perhatian dari temennya sampai akhirnya dia kena bullying.

“Kena bully ibu?”

“Iya. Dia nyari perhatian gitu karena dia gak nerima perhatian dari saya. Saya sibuk kerja sampai lupa gak ngasih perhatian sama anak. Setelah kena bully itu apalagi pas dia depresi, harus konsultasi ke psikolog saya barulah berhenti kerja. Dulu saya gila kerja sampai lupa sama anak. Semenjak dari sana, saya resign, fokus ngurus dia di rumah, ngasih perhatian yang selama ini hilang dan alhamdulillah kondisinya membaik. Makannya saya sebenarnya takut ketika ngelepas dia ke sini, apalagi sekolah asrama jauh dari saya takutnya dia gitu lagi. Nyari-nyari perhatian dari orang lain. Dia kan baru deket sama saya baru tiga tahun kebelakang ini. Cuma memang ini pilihannya sendiri. Saya bahkan awalnya maksa dia buat sekolah di Negeri aja yang deket rumah, tapi dianya gak mau. Pengen ke sini.”

Obrolan pagi itu entah mengapa terasa seperti pukulan bagi aku yang memang pada awalnya aku berniat ingin menjadi seorang career woman. Career woman atau wanita karir itu sendiri menurut Samsu (2020, p.67) adalah seseorang wanita yang menjadikan pekerjaan atau karirnya sebagai prioritas utama dibandingkan pekerjaan dan status lainnya. Definisi ini benar-benar menggambarkan sosok ibu tersebut. Dari pengakuannya aja kan si ibu itu gila kerja dan parahnya sampai lupa sama anak. Setelah mendengar curhatan si ibu aku jadi sadar bahwa ada harga yang harus dibayar saat kita memilih sesuatu hal. Karena pada hakikatnya kita tak bisa memilih dua hal secara sekaligus bukan? Pasti harus ada salah satu yang diprioritaskan. Sebenarnya gak ada yang salah sih ya ketika kita, as a woman choose to be a career woman. Asal hak dan kewajibannya dijalankan secara beriringan. Although is not easy especially I still single now. Aku belum tahu pasti gimana rasanya jadi seorang istri yang harus berperan sebagai ibu dan juga wanita karir. Tapi mendengar dari kisah si ibu itu ada satu hal yang aku petik bahwa tugas utama kita sebagai seorang ibu ya mendidik anaknya, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anaknya. Boleh sih kerja, tapi jangan sampai gila kerja juga lupa sama anak, tau-tau anak udah depresi dan harus ke psikolog. Bukankah bayarannya lebih besar ya ketimbang misal dari awal resign kerja atau ya kerjanya sesuai porsi aja tetap ngasih waktu buat anak? Gitu gak sih?

“Jangan sampai kayak saya ya Ukhti, baru resign kerja setelah mental anak kena. Harga yang harus dibayar jelas lebih mahal Ukhti.” Ucap si Ibu menutup cerita singkatnya setelah si anak kembali dari teman-temannya kemudian pamit dan langsung pergi pulang.

Aku kembali merombak cita-cita aku, rencana aku ke depan. Kalau harus fokus dan egois mementingkan karir, pencapaian sendiri, bagaimana dengan anak nanti? Mikirnya udah kejauhan ya heheee, tapi gak apa-apa sih. Lagi pula ini kan baru rencana sisanya Allah yang menentukan.

Cheers,

Sumber:

Samsu. (2020) . Persoalan Wanita Karir Dan Anak Dalam Keluarga Pegawai Negeri Sipil (PNS) Di Provinsi Jambi. Harakat An-Nisa Jurnal Studi Gender dan Anak,5(2),65-71. DOI: https://doi.org/10.30631/harakatan-nisa.2020.52.65-71